February 18, 2008

LOST: The Trilogy Completed, Berapa Jumlah Pintu Istora Senayan?

Bagian terkahir dari LOST yang ingin saya share adalah sesi dengan Mas Eko Prasetyo. LOST bukanlah kali pertama saya bertemu dengan beliau. Oleh karena itu, saya sudah memiliki ekspektasi bahwa sesi ini akan penuh tawa meskipun berlangsung pada jam 1 – 3: prime time untuk mengantuk dan tidur siang. Pastinya berat membawakan materi “filosofi pendidikan” di jam tidur ini.

Mas Eko bercerita tentang ironi – ironi penuh humor. Beliau bercerita tentang presiden Chile, Hugo Chaves. Ketika terpilih, Chaves berpidato yang menyatakan bahwa ia memotong gaji dirinya dan seluruh kabinet 50% dan pemotongan tersebut akan digunakan bagi kemakmuran rakyat. Saya yang bukan warga Chile saja merinding mendengarnya. Pemimpin saya juga membuat saya merinding sih, dengan mengeluarkan sebuah album lagu! Ya, betul, itulah yang kita butuhkan…, itulah yang Indonesia butuhkan untuk menjawab kelangkaan minyak tanah, untuk menanggulangi banjir dan bencana di seluruh nusantara, untuk mempertahankan aset dalam negeri dari tangan asing, kita butuh… pemimpin yang meluncurkan album! Pemilu berikut saya rasa Ahmad Dhani harus mencalonkan diri kalau begtitu. Oh tak perlu, dia kan sudah punya Republik Cinta.

“Berpuluh tahun kami nantikan
pemimpin yang mendengarkan,
hati yang mengerti
di negeri ini

Tak kunjung datang
ataukah memang tak dilahirkan oleh Tuhan”
dari ah.. saya lupa judul lagunya, karangan Franky Salihatua

 

Mas Eko bercerita tentang kenapa Aburizal Bakrie seharusnya mendapatkan nobel sains karena temuan spektakuler: perusahaan gas alam yang bisa mengeluarkan lumpur. Bercerita tentang pertanyaan pada buku PPKn “kearah mana kepala burung garuda menghadap”, tentang pertanyaan dalam buku penjaskes “berapa jumlah pintu Istora Senayan” (what does it have to do with penjaskes!), dan beragam lelucon tentang kondisi pendidikan dan sosial politik bangsa ini.

Beliau bercerita bagaimana negara – negara Amerika Latin dan Iran saja mampu memberikan pendidikan murah, jika tidak gratis, pada warga negaranya. Beliau bercerita bahwa ”perpustakaan” di Iran adalah tempat yang paling ramai di kampus dan bagaimana di Indonesia peran tersebut ternyata diisi oleh “kantin”. Setiap kali kita membicarakan pendidikan murah di Indonesia, selalu saja para pakar berkata, “itu kan Cuma bisa dilakukan sama negara maju macam Jerman saja”. Tapi negara – negara berkembang yang diceritakan Mas Eko bisa.

Makanya, saya sangat salut dengan apa yang dilakukan Mas Budiono dan kawan – kawannya di kementrian PM, kabinet KM ITB: rumah belajar gratis. Small step for giant leap. Salut. Saya? Sekarang mau belajar untuk bersyukur atas pendidikan tinggi yang mahal ini dulu deh: menggunakan setiap detiknya untuk bermanfaat. Setelah turun jadi kahim, insya Allah mau gabung dengan rumah belajar. Katanya kan, “khairu kum anfaukum linnas, sebaik baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi ummat manusia lain”.

February 9, 2008

Seandainya Saya Menjadi Seorang Mentor

Filed under: Kampusku Rumahku

Hmm.. lama tak posting. Consistency is indeed a hard thing! Mengawali come back saya ke dunia blogging, kedua blog saya isi dengan resolusi. Kalau blog yang itu berisi resolusi pribadi, blog yang ini akan diisi dengan resolusi yang saya berikan pada panitia kaderisasi STEI sebagai prasyarat sebagai seorang mentor. Ini sekedar copy paste saja. Tapi rasanya tak ada salahnya di-post disini. Semoga tidak terlihat sebagai ekstrovert. Hehe.

Bagi saya, menjadi mentor merupakan sebuah tugas yang berat. Seorang mentor haruslah dapat menjadi teladan, menjadi inspirasi dan menjadi sosok pendidik bagi padawan – padawan yang dimentorinya. Memberi teladan saja sulit, apalagi menjadi teladan. Mencari inspirasi saja sulit, apalagi menjadi inspirasi. Menjadi peserta didik saja sulit, apalagi menjadi seorang pendidik. Oleh karena itu, saya sangat yakin bahwa tugas menjadi mentor ini merupakan sebuah tugas yang tidak ringan.

Maka, seandainya saya menjadi seorang mentor, maka saya hanya dapat menjajikan satu hal pada rekan – rekan panitia kaderisasi: saya akan berusaha menjadi sosok yang dapat menjadi teladan, member inspirasi, dan mendidik dengan baik. Resolusi yang terlihat gagah, namun jelas bukan perkara mudah. Berikut adalah langkah yang saya akan ambil demi mewujudkan resolusi tadi dalam bentuk yang konkret:

1. Belajar berintegritas

Bagi saya, integritas kini menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan bagi seorang pengkader. Apalagi sebagai seorang mentor yang haruslah bisa menjadi teladan. Oleh karena itu, saya ingin belajar berintegritas dalam menjalankan peran saya sebagai seorang mentor. Apa – apa yang saya sampaikan pada rekan – rekan peserta mentoring akan berusaha saya amalkan. Apa – apa yang belum baik dari diri saya berkaitan dengan apa yang saya sampaikan dalam kaderisasi, akan saya perbaiki. Singkat kata saya akan berusaha menyeleraskan antara apa yang saya ucapkan dan sampaikan pada peserta mentoring dengan apa yang saya perbuat dalam kehidupan sehari – hari saya.

 

2. Belajar berprestasi

Berprestasi adalah sebuah hal yang sudah lama tidak saya miliki. Pencapaian akademis saya menengah kebawah, demikian pencapaian diluarnya. Oleh karena itu, demi menjadikan diri sebagai mentor yang inspiratif, saya akan berusaha berprestasi baik di semester ini, baik secara akademis maupun non akademis.

 

3. Belajar tentang pendidikan, belajar mendidik, dan belajar bersama dengan para peserta didik

Pendidikan adalah tema yang baru bagi saya, karena saya selama ini lebih banyak menjadi peserta didik. Oleh karena itu, saya akan banyak belajar tentang pendidikan dan belajar menjadi seorang pendidik yang baik bagi peserta mentoring. Selain itu, saya sangat menekankan bahwa saya ingin belajar bersama para peserta didik karena saya bukanlah sumber ilmu. Oleh karena itu, saya tidak akan menganggap bahwa suara sayalah kebenaran. Saya akan berusaha sekerasnya agar para peserta didik dapat menggali potensi dirinya dan membawa kelompok untuk bersama – sama mempelajari berbagai hal.

 

Semakin banyak janji, semakin banyak hutang. Semakin banyak pula yang akan ditagihkan kepada saya. Maka, saya cukupkan sekian saja. Jika rekan – rekan panitia menemukan ketidaksesuaian antara apa yang saya janjikan dengan apa yang saya laksanakan, silakan ditegur dan diingatkan. Semoga kaderisasi yang kita lakukan membawa hal positif bagi semua pelakunya.

 

June 17, 2007

Kalau anak tidak pernah ketemu bapaknya

Filed under: Kampusku Rumahku

Seperti lagu "Bang Thoyyib" yang sempat booming dahulu, saya sedang merasakan kondisi dimana seorang anak jarang bertemu bapaknya. Tidak sampai 3 kali puasa dan 3 kali lebaran sih, tapi kondisinya sangat memprihatinkan. Lagi ngobrolin apa sih ini? Tenang, tulisan ini tidak sedang bercerita bahwa saya sedang ada masalah keluarga. No, not at all. Ini kan kampanye menulis, bukan koran gosip!

Tulisan ini adalah reaksi akhir saya setelah memasuki fase analisis dalam menanggapi surat cinta terkahir yang saya terima dari rektorat (yang juga telah saya post di sini).

Diskusi paling mencerahkan yang saya alami justru terjadi di tempat yang sama sekali tidak saya duga - duga: PT LAPI Divusi, tempat saya melaksanakan kerja praktek. Diskusi yang dimaksud adalah obrolan saat istirahat siang antara saya dengan Teh Tessa yang semasa masih kuliah dulu adalah senator HMIF.

Dalam diskusi dengan saya, Teh Tessa sangat menekankan bahwa bapak - bapak di gedung Annex sana sebenarnya ‘tidak sejahat itu’. In fact, mereka adalah ‘bapak’ bagi kita, para mahasiswa. Logika sederhananya, bapak mana sih yang mau mencelakakan anaknya? Tentunya setiap kebijakan yang diambil didasarkan pada keinginan si bapak untuk membawa anak - anaknya ke arah yang lebih baik.

Ide seperti ini sebenarnya bukan barang baru. Dalam beberapa forum silaturahmi ketua hmpunan, beberapa teman juga pernah mengungkapkan pemikiran seperti ini. Diantara yang pernah saya dengar adalah Iwa (EL 04) dan Willy (TM 04).

Masalahnya adalah seringkali kita, mahasiswa, sebagai anak berseberangan ide dengan bapak - bapak kita dalam hal ‘arah yang lebih baik’ tersebut. Nampaknya persepsi kita tidak sama dengan persepsi mereka. Kondisi ini diperparah dengan minimnya interaksi langsung antara para bapak - bapak penentu kebijakan tersebut dengan para mahasiswa sebagai ‘objek penderita’ dari kebijakan yang dibuat. Akhirnya, komunikasi menjadi mandeg dan segala sesuatu terkomunikasikan dalam bentuk yang paling tidak komunikatif yang bisa saya bayangkan: surat keputusan, surat edaran, dan surat larangan.

Beberapa poin dari surat larangan tersebut saya setuju, seperti: dilarang melakukan pemukulan, serta pelindungan terhadap orang - orang yang melanggar peraturan akademik ITB. Tapi poin lainnya seolah ditujukan untuk satu hal: mematikan kegiatan kaderisasi di tingkat program studi, fakultas/sekolah, maupun di tingkat universitas.

Jika sang bapak mengatakan bahwa adanya pemukulan dalam proses OS dan kaderisasi dilarang, maka saya akan menjadi salah satu orang yang paling depan mendukung peraturan tersebut. Namun karena sang bapak mengatakan bahwa merekrut kader baru (kaderisasi) dilarang, jelas saya sewot. Bagaimana organisasi saya melanjutkan hidup jika proses pembinaan kader baru dilarang! Alasan yang sering dikemukakan adalah, "mahasiswa kan objek pendidikan, bagaimana mungkin objek pendidikan yang satu berusaha mendidik objek pendidikan yang lain?" Saya akan katakan, "betulkah itu?" Bukannya sudah bukan rahasia lagi di ITB sering terjadi dosen meninggalkan tanggung jawabnya mendidik di kelas dan menyerahkan perannya sebagai pendidik kepada asisten, another so called ‘objek pendidikan’.

Tapi dialog ini tidak pernah terjadi antara saya dan pihak - pihak yang seharusnya menjadi bapak saya. Dan rasanya memang demikian juga dengan teman - teman di tempat lain. Akhirnya, seperti kata Iwa, kita menjadi generasi yang bingung. Menjadi generasi yang berusaha mendefinisikan sendiri seperti apa peran mahasiswa seharusnya. Timbul beragam deviasi seperti: mahasiswa adalah Iron Stock, Guardian of Value, dan Agent of Change; atau mahasiswa harus kritis; atau mahasiswa sebaiknya pulang saja sehabis kuliah dengan sesekali nonton bioskop atau bermain billiard; atau peran apapun itu yang kita lakoni masing - masing.

Padahal mungkin bapak - bapak kita berharap yang lain. Mungkin mereka berharap mahasiswa ITB sehabis kuliah semua masuk ke lab - lab, meneliti dan kemudian menghasilkan karya - karya yang spektakuler demi kemajuan bangsa; atau mungkin mereka berharap mahasiswa menjadi anak baik - baik, datang jam 7 pagi, pulang jam 5 sore; atau apapun itu yang saya tidak tahu.

Akhirnya kita tidak pernah sejalan. Bapak - bapak itu tetap keukeuh dengan pendiriannya akan peran mahasiswa (yang kita tidak pernah diberitahu apa itu) dan sebagian kita di organisasi - organisasi kemahasiswaan tetap keukeuh dengan peran mahasiswa seperti yang kita (atau mahasiswa lain pendahulu kita) definisikan sendiri.

Kan alangkah baiknya jika ada forum bersama antara kita dan para bapak - bapak tersebut. Duduk kita satu ruang bersama lalu sang bapak bercerita tentang impian dan harapannya akan mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan. Lalu kita juga bercerita tentang harapan dan impian kita akan mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan. Pasti banyak titik temunya. Dan bukan tidak mungkin kita akhirnya berbagi peran bahwa ITB sebagai institusi akan berperan A, B, C dalam mencapai impian itu sedangkan organisasi kemahasiswaan berperan D, E, F. Kan sekarang jadi tumpang tindih peran, organisasi kemahasiswaan membuat tutorial, rektorat membuat latihan kepemimpinan! Lama - kelamaan nanti kita tukar peran, korps asisten bikin kuliah sendiri, rektorat bikin kaderisasi dan kopi sore! Tah!

Aduh, wahai bapak… bapak…

3 kali puasa, 3 kali lebaran,

lagi - lagi kami hanya menerima surat edaran,  

yang isinya bisa dengan satu kata disimpulkan: 

jangan! 

June 3, 2007

ITB Goes To School

Barusan ada tamu spesial datang ke himpunan. Ketua OSKM ITB 2007, Agung namanya. Mas Agung ini ternyata pingin silaturahmi dengan himpunan - himpunan terutama untuk mensosialisasikan perkembangan OSKM sejauh ini.

Berceritalah mas Agung ini tentang konsep OSKM yang baru nanti. OSKM 2007 nanti rencananya hanya memberi penekanan kepada dua hal : pengenalan kehidupan kampus dan pengenalan falsafah - falsafah kemahasiswaan. Sampai titik ini saya setuju. Saya tidak terlalu peduli bagaimana metode OSKM nanti, yang terpenting adalah falsafah - falsafah ini disampaikan. Sejujurnya, karena OSKM 2004 lah saya akhirnya beraktivitas seperti ini.  Saya waktu itu tergugah banget dengan hal - hal seperti: Iron Stock, Agent of Change dan Guardian of Value. Intinya sih, falsafah - falsafah itu yang membuat saya waktu itu berani bilang: OS saya bukan perploncoan, OS saya tidak dangkal!

Selanjutnya Agung menanyakan pendapat saya, "ada ide ga soal pengabdian masyarakat di OSKM nanti bentuknya gimana?" Akhirnya terlintas di benak saya tadi ide ini:

ITB Goes To School!!

Apa tuh?

Dasarnya adalah mahasiswa mempunyai tanggung jawab untuk mengabdi kepada masyarakatnya (ide yang sejak lama ditanamkan di kampus tercinta ini, konon ide aslinya dari Bung Hatta). Nah, untuk bisa mengabdi ke masyarakat kan sebaiknya melalui keprofesian kita. Masalahnya, mahasiswa baru bisa apa? Baru juga masuk ITB, belum punya ilmu keprofesian apa - apa.

Lantas terpikir oleh saya, kan himpunan - himpunan pasti pernah punya program pergi ke sekolah. HMIF sendiri tahun lalu pernah mengadakan "HMIF Goes To School" . Nah, kenapa tidak kita buat acara seperti itu bareng - bareng. Kita list saja, ada berapa sekolah dasar di Bandung. Lalu kita konsep kunjungan ke sekolah tersebut seperti apa. Bagi - bagi buku kah, bantuan memperbaiki fasilitas sekolah kah, ikut mengajar adik - adik SD kah, atau kombinasi dari semuanya. Semua inisiasi dilakukan oleh kita: himpunan - himpunan dan mungkin unit - unit. Dari mulai tujuan, konsep acara, target sekolah, hingga perizinan ke sekolah - sekolah yang dituju. Setelah itu, saat teman - teman 2007 datang mereka bisa mengeksekusinya dengan lancar. Katakan kita punya daftar 100 sekolah, kita distribusikan saja 3000 teman - teman 2007 ke seratus sekolah tadi. 27 HMD dan 70 sekian Unit masa’ tidak bisa menginisasi acara ke 100 sekolah?

Kenapa saya ngotot harus ada bentuk nyata pengabdian masyarakat di OSKM? Kenapa tidak cukup hanya dengan penyampaian materi saja? Karena menurut saya, pengabdian masyarakat di kemahasiswaan adalah tentang melatih kepekaan sosial: melatih sense. Sama seperti naik sepeda, Anda tidak bisa belajar naik sepeda dengan hanya diceritakan saja. Anda harus benar - benar naik dan kemudian jatuh, naik lagi dan kemudian jatuh lagi, dan setelah berulang kali jatuh Anda baru bisa mengendari sepeda. Sense Anda telah terlatih setelah sekian kali latihan tadi. (Oleh karena itu hingga hari ini saya tidak bisa naik sepeda: tidak pernah berlatih!)

Demikian pula menumbuhkan kepekaan sosial ini. Anda tidak bisa hanya bercerita, "Adik - adik, di negara kita ini banyak orang miskin lho…, banyak musibah…, banyak bla bla bla" dan kemudian berharap selepas lulus nanti mereka akan menjadi teknokrat yang peduli pada masalah bangsa. Beri mereka teori sedikit saja, beritahu masalah bangsa ini (yang sudah terlalu banyak itu). Lantas ajak mereka untuk mencoba ikut membantu mengatasi masalah meskipun hanya sepotong kecil dari bagian besar masalah bangsa ini. Yang terlintas oleh saya adalah kemudian masalah pendidikan. Potongan kecil yang saya ambil: pendidikan dasar di kota Bandung.

Kita, apalagi mahasiswa baru, bukan pakar pendidikan memang. Makanya, tentu saja solusi yang kita tawarkan tidak akan lengkap, kontinu dan sangat berkualitas. Namun apa salahnya, dengan apa yang kita punya, kita latih kepekaan kita dengan terjun kesana. Mencoba memberi sebanyak yang kita punya (meskipun itu pasti sedikit).

Oleh karena itu, diakhir obrolan kami saya meminta mas Agung ini untuk benar - benar memikirkan soal ide ITB Goes To School ini. Ide detilnya kita pikirkan lagi bareng - bareng lah. Insya Allah saya bantu. Nanti usulan yang lebih matang lagi akan saya tulis dalam bentuk draft acara dan saya berikan ke panitia OSKM 2007 lah. Semoga bermanfaat. 

 

June 2, 2007

Surat cinta lagi…

Filed under: Kampusku Rumahku

Baru saja tadi pagi saya ‘melepas’ teman - teman panitia kaderisasi pergi outbond ke Punclut. Baru saja saya sedikit bergembira karena ternyata masih ada sekian jumlah orang yang mau repot - repot datang briefing pagi tepat pukul empat (entah jam berapa mereka berangkat dari kosan masing - masing). Setibanya di himpunan kembali, seorang bapak menghampiri saya dan memberi sebuah surat yang tidak asing formatnya.

Betul saja. Surat cinta lagi. Kali ini dengan nomor: 082/SK/K01/KM/2007. Isinya tentu lagi - lagi larangan ini - itu. Kali ini isi tepatnya begini (ini bagian keputusan saja lho…):

KEDUA: 

Melarang kegiatan-kegiatan dan tindakan-tindakan kolektif atau individual yang melanggar etika akademik ITB dan Hak Azasi Manusia antara lain:

  1. Melakukan pemukulan dengan alasan apapun;
  2. Penggunaan waktu kegiatan kemahasiswaan di luar batas kewajaran atau waktu yang telah ditetapkan oleh ITB di dalam kerangka proses pembelajaran;
  3. Melakukan arak-arakan baik di dalam maupun di luar kampus dalam kaitannya dengan acara kewisudaan dan sejenisnya;
  4. Melindungi pelaku yang melanggar peraturan akademik dan peraturan kemahasiswaan yang berlaku di ITB;
  5. Menggunakan fasilias ruanngan di lingkungan ITB untuk tempat bermalam/menginap;
  6. Menyelenggarakan Orientasi Studi dan sejenisnya, pada tingkat Institut, Fakultas dan Prodi;
  7. Memobilisasi massa mahasiswa dalam kegiatan apapun di lingkungan kampus ITB;
  8. Memasanga posko organisasi kemahasiswaan, baligo, spanduk, membagikan brosur, dan yang sejenisnya pada saat pendaftaran mahasiswa baru, acara kewisudaan, upacara dies natalis, dan sejenisnya tidak pada tempat yang telah ditentukan dan/atau tanpa ijin.

KETIGA: 

Pelanggaran terhadap ketentuan butir kedua di atas, dapat menyebabkan dicabutnya status kemahasiswaan secara permanen.

Well,  saya salin lengkap tanpa mengurangi satu karakter atau satu tanda baca pun.

Sebenarnya saya sudah punya pendapat sendiri tentang surat ini, namun saya simpan dulu saja. Karena menurut bung Ron, biasanya pertama kali orang bereaksi terhadap sesuatu yang baru itu sbb: Surprised-Resistent-Analyze-(lupa!!). Nah, rasanya saya masih ditahap Resistent nih. Tunggu sampai fase analisisnya selesai dulu deh. Nanti saya posting lagi.

Nah, what do you think

May 19, 2007

Jangan buang sampah sembarangan ah…

Cerita ini saya dapatkan dari Dika (TL 04) sewaktu kami ngobrol – ngobrol setelah acara Forum Silaturahmi Himpunan – Unit – Kabinet. Tah! Makanya saya selalu yakin bahwa yang namanya Forsil itu pasti manfaat.

Tahukah kamu apa itu PPS? 

Sebelum menjawab itu, semua warga ITB pasti tahu bahwa di seantero kampus ini terdapat banyak tong sampah berpasangan dengan warna putih dan hitam. Nah, tentunya semua orang yang tidak buta huruf pun tahu bahwa kedua tong sampah ini punya fungsinya masing – masing, yang hitam untuk menampung sampah yang tidak dapat membusuk seperti: plastik. Botol, karet, dll; sedangkan yang putih untuk menampung sampah yang dapat membusuk seperti: kulit pisang, makanan, dll. Tapi sayang sekali ternyata banyak dari kita warga ITB yang belum memanfaatkan kedua tong sampah ini sebagaimana seharusnya. Alasan yang sering kita kemukakan adalah,

“Yah, ujung – ujungnya kan disatuin juga tuh semua sampah di TPS Taman Sari”

Anda salah!

Saya juga. Dulu saya juga pikir begitu. Saya kira semua sampah ITB ini akan bermuara juga ke TPS Taman Sari. Tidak berguna memilah sampah. Ujung – ujungnya dicampur juga!

Ternyata, semua sampah ITB bermuara ke PPS: Pusat Pengolahan Sampah. Berdasarkan cerita Dika lagi, PPS ini sudah menerapkan pengolahan sampah dengan baik. Semua sampah yang dapat membusuk diolah menjadi pupuk kompos. Dari produksi kompos ini ITB mendapatkan keuntungan paling sedikit 2 juta rupiah setiap bulannya! Sedangkan sampah – sampah yang sudah tidak tertolong lagi dimasukkan ke sebuah mesin bernama inseminator. Saya sendiri belum pernah tahu apa itu inseminator sebelumnya, yang pasti mesin ini membutuhkan suhu tinggi untuk bekerja optimal menghancurkan sampah – sampah yang tidak dapat membusuk tadi, kurang lebih 1000 derajat celcius!

Ok, dari cerita PPS ini, saya ingin menumbuhkan rasa berdosa bagi semua warga ITB yang tidak membuang sampah dengan memilah dengan cerita berikut. Yang terjadi jika kita tidak memilah terlebih dulu sampah yang akan kita buang adalah sampah – sampah tersebut harus dipisah secara manual oleh petugas PPS yang:

  • Bergaji kecil
  • Tidak dilengkapi dengan equipment memadai
  • Tidak diperhatikan
  • Tidak memiliki tempat mengadu saat terjadi musibah menimpanya saat bertugas

Akhirnya, tugas si bapak petugas PPS ini pun akan sangat terhambat jika sampah yang disodorkan kepada beliau belum dipilah. Dalam kondisi hujan turun, beliau terpaksa memasukkan semua sampah yang belum dipilah tadi kedalam mesin inseminator. Hal ini akan membuat daya kerja mesin ini menjadi memburuk. 

Untuk lebih menambah perasaan berdosa jika kita tidak membuang sampah dengan benar, saya teruskan cerita Dika pada saya. Si petugas yang dikunjungi Dika bertutur bahwa untuk memasukkan sampah ke mesin inseminator, ia harus melakukannya dengan manual. Artinya terkadang beliau harus membuka mesin bersuhu tinggi tadi untuk memasukkan sampah kedalamnya. Pada awal pekerjaannya, beliau dilengkapi dengan baju anti panas yang memadai. Namun setelah baju tersebut rusak (mungkin karena memang sudah waktunya rusak), pihak ITB tidak memberikan baju anti panas lain sebagai gantinya. Suatu kali terjadi, saat beliau memasukkan sampah ke mesin inseminator tanpa menggunakan baju anti panasnya yang sudah rusak, terkenalah tangan beliau oleh lidah api yang panas. Mengadulah beliau ke gedung Annex. Apa yang beliau terima? Santunan? Rujukan surat ke RS? Tidak! Yang beliau dapatkan adalah hanya sebuah salep! Ya, salep! Bagus jika yang memberikan salep tadi adalah pihak rumah sakit atau tenaga medis yang mengerti harus memberi treatment apa terhadap luka bakar beliau, namun yang memberikannya adalah petugas Annex dengan pengetahuan medisnya yang entah seberapa. Ok, kita cukupkan pembahasan soal gedung Annex, biasanya pembahasan soal gedung ini membuat naik darah.

Oleh karena itu, jika dapat membuat kita terenyuh, ingatlah bapak petugas PPS yang mengurusi sampah kita dengan segala deritanya saat kita hendak membuang sampah. Setidaknya, ringankanlah derita beliau dengan membuang dan memilah sampah kita sesuai tempatnya. Kalau kata Dika, “aduh, jangan zholim lah.” Ah…, saya jadi merasa berdosa sekali selama ini suka membuang sampah sesuka hati.

Jangan buang sampah sembarangan ah…

Cerita ini saya dapatkan dari Dika (TL 04) sewaktu kami ngobrol – ngobrol setelah acara Forum Silaturahmi Himpunan – Unit – Kabinet. Tah! Makanya saya selalu yakin bahwa yang namanya Forsil itu pasti manfaat.

Tahukah kamu apa itu PPS? 

Sebelum menjawab itu, semua warga ITB pasti tahu bahwa di seantero kampus ini terdapat banyak tong sampah berpasangan dengan warna putih dan hitam. Nah, tentunya semua orang yang tidak buta huruf pun tahu bahwa kedua tong sampah ini punya fungsinya masing – masing, yang hitam untuk menampung sampah yang tidak dapat membusuk seperti: plastik. Botol, karet, dll; sedangkan yang putih untuk menampung sampah yang dapat membusuk seperti: kulit pisang, makanan, dll. Tapi sayang sekali ternyata banyak dari kita warga ITB yang belum memanfaatkan kedua tong sampah ini sebagaimana seharusnya. Alasan yang sering kita kemukakan adalah,

“Yah, ujung – ujungnya kan disatuin juga tuh semua sampah di TPS Taman Sari”

Anda salah!

Saya juga. Dulu saya juga pikir begitu. Saya kira semua sampah ITB ini akan bermuara juga ke TPS Taman Sari. Tidak berguna memilah sampah. Ujung – ujungnya dicampur juga!

Ternyata, semua sampah ITB bermuara ke PPS: Pusat Pengolahan Sampah. Berdasarkan cerita Dika lagi, PPS ini sudah menerapkan pengolahan sampah dengan baik. Semua sampah yang dapat membusuk diolah menjadi pupuk kompos. Dari produksi kompos ini ITB mendapatkan keuntungan paling sedikit 2 juta rupiah setiap bulannya! Sedangkan sampah – sampah yang sudah tidak tertolong lagi dimasukkan ke sebuah mesin bernama inseminator. Saya sendiri belum pernah tahu apa itu inseminator sebelumnya, yang pasti mesin ini membutuhkan suhu tinggi untuk bekerja optimal menghancurkan sampah – sampah yang tidak dapat membusuk tadi, kurang lebih 1000 derajat celcius!

Ok, dari cerita PPS ini, saya ingin menumbuhkan rasa berdosa bagi semua warga ITB yang tidak membuang sampah dengan memilah dengan cerita berikut. Yang terjadi jika kita tidak memilah terlebih dulu sampah yang akan kita buang adalah sampah – sampah tersebut harus dipisah secara manual oleh petugas PPS yang:

  • Bergaji kecil
  • Tidak dilengkapi dengan equipment memadai
  • Tidak diperhatikan
  • Tidak memiliki tempat mengadu saat terjadi musibah menimpanya saat bertugas

Akhirnya, tugas si bapak petugas PPS ini pun akan sangat terhambat jika sampah yang disodorkan kepada beliau belum dipilah. Dalam kondisi hujan turun, beliau terpaksa memasukkan semua sampah yang belum dipilah tadi kedalam mesin inseminator. Hal ini akan membuat daya kerja mesin ini menjadi memburuk. 

Untuk lebih menambah perasaan berdosa jika kita tidak membuang sampah dengan benar, saya teruskan cerita Dika pada saya. Si petugas yang dikunjungi Dika bertutur bahwa untuk memasukkan sampah ke mesin inseminator, ia harus melakukannya dengan manual. Artinya terkadang beliau harus membuka mesin bersuhu tinggi tadi untuk memasukkan sampah kedalamnya. Pada awal pekerjaannya, beliau dilengkapi dengan baju anti panas yang memadai. Namun setelah baju tersebut rusak (mungkin karena memang sudah waktunya rusak), pihak ITB tidak memberikan baju anti panas lain sebagai gantinya. Suatu kali terjadi, saat beliau memasukkan sampah ke mesin inseminator tanpa menggunakan baju anti panasnya yang sudah rusak, terkenalah tangan beliau oleh lidah api yang panas. Mengadulah beliau ke gedung Annex. Apa yang beliau terima? Santunan? Rujukan surat ke RS? Tidak! Yang beliau dapatkan adalah hanya sebuah salep! Ya, salep! Bagus jika yang memberikan salep tadi adalah pihak rumah sakit atau tenaga medis yang mengerti harus memberi treatment apa terhadap luka bakar beliau, namun yang memberikannya adalah petugas Annex dengan pengetahuan medisnya yang entah seberapa. Ok, kita cukupkan pembahasan soal gedung Annex, biasanya pembahasan soal gedung ini membuat naik darah.

Oleh karena itu, jika dapat membuat kita terenyuh, ingatlah bapak petugas PPS yang mengurusi sampah kita dengan segala deritanya saat kita hendak membuang sampah. Setidaknya, ringankanlah derita beliau dengan membuang dan memilah sampah kita sesuai tempatnya. Kalau kata Dika, “aduh, jangan zholim lah.” Ah…, saya jadi merasa berdosa sekali selama ini suka membuang sampah sesuka hati.

May 7, 2007

Pasca sidang pengesahan proker (yang gagal)

Saat ini saya juga sedang membuat draft untuk tulisan dengan isi serupa dengan tulisan ini. Rencananya, draft tadi akan dipublikasikan melalui media cetak, mungkin melalui buletin Ekspressif.

Singkatnya, sidang pengesahan proker yang dilakukan pada Kamis (4 Mei 2007) lalu berakhir dengan pembatalan sidang dan pengesahan program kerja DE dan DPP HMIF 2007/2008 tanpa melalui mekanisme sidang melainkan dengan keputusan DPP semata. Saya sendiri malam itu memutuskan untuk mematuhi keputusan yang dibuat oleh DPP tersebut dengan menandatangani lembar pengesahan proker. Mungkin tidak sedikit yang kecewa dengan keputusan saya, namun keputusan tersebut akhirnya saya pilih karena saya merasa harus mematuhi keputusan lembaga yang menurut AD/ART hanya kalah tinggi dari sidang anggota.

Namun, ada beberapa hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dari kejadian malam itu:

1. Waktunya berubah

Sidang yang dihadiri oleh sedikit anggota biasa nampaknya bukan hal baru. Terutama jika bukan sidang LPJ. Saya jadi teringat bahwa tahun lalu pun sidang pengesahan proker akhirnya berakhir dengan jumlah peserta sidang yang hanya terdiri dari 5 orang selain DE dan DPP waktu itu. Justru saya bersyukur bahwa peserta sidang malam itu mengkritisi perilaku ‘titip absen’ yang dilakukan banyak anggota HMIF yang lain. Memang sekarang waktunya berubah. Waktunya untuk lebih menghormati sidang anggota sebagai lembaga tertinggi di HMIF kita. Waktunya juga untuk lebih peduli terhadap lembaga tertinggi tersebut. Tentunya hal ini juga menuntut penyelenggara sidang (DPP dan juga DE) untuk lebih besar lagi effort-nya dalam pengadaan sidang, baik dari segi publikasi, pewacanaan agenda sidang, peletakkan jadwal sidang, dan lain sebagainya.
 

2. Hirarki peraturan

Pada sidang yang lalu, setiap kali timbul permasalahan kita selalu berusaha mengacu pada AD/ART. Bagus sih. Masalahnya adalah AD/ART kita memang masih memiliki banyak celah dan belum mengatur segala hal. Dan memang tidak seharusnya AD/ART lantas membahas segala hal sampai ke hal - hal teknis. Yang kita perlukan adalah hirarki peraturan. Maksud?

Ambil contoh organisasi bernama Republik Indonesia. Peraturan tertingginya adalah UUD 45. Namun jelas, jika segala sesuatu harus mengacu kepada UUD 45 akan kacaulah semuanya. Misal, di UUD 45 tidak pernah ada keterangan bagaimana cara menghukum maling sendal. Jika segala sesuatu harus kembali ke UUD 45, apa kata dunia? Oleh karena itu, lantas di organisasi selevel negara Republik Indonesia tadi ada yang namanya tap MPR, ada keputusan Presiden, dan beragam aturan lainnya.

Di AD/ART HMIF, hanya terdapat dua hirarki peraturan yakni AD/ART sendiri dan keputusan DE atas persetujuan DPP. Padahal banyak hal yang harus diputuskan yang diluar kewenangan DE, misalnya ya.. soal sidang tadi. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan salah satu butir amandemen AD/ART HMIF ini nantinya adalah hirarki peraturan yang lebih baik sehingga setiap kali ada permasalahan kita tidak lantas harus merujuk jauh kepada AD/ART untuk menyelesaikannya.

3. Kembali menyadari hak dan kewajiban anggota biasa 

Menghadiri sidang anggota memang tidak pernah secara eksplisit disebut sebagai kewajiban anggota biasa HMIF. Namun, mengingat sidang anggota adalah lembaga tertinggi yang diakui di HMIF, seharusnyalah anggota biasa menyadari pentingnya kehadiran mereka. Tulisan yang akan saya paparkan melalui media cetak tadi akan lebih banyak membahas mengenai pentingnya kesadaran akan hak dan kewajiban anggota biasa ini. Nantikan saja ya… . Mungkin di Ekspressif bulan Mei akan ditampilkan. ^-^

 

Akhirnya, semoga sidang pengesahan proker lalu dapat menjadi titik balik bagi penyelenggaraan sidang anggota di HMIF. Semoga nantinya kita dapat menyelenggarakan sidang anggota dengan lebih baik lagi. Di depan kita masih banyak sidang lho…, minimal sidang pengesahan GDK, LPJ tengah tahun, sidang pengesahan amandemen AD/ART dan LPJ akhir tahun nanti. Semoga semuanya bisa terlaksana dengan lebih baik lagi. Amin.

Kampanye Menulis Dimulai!

Filed under: Kampusku Rumahku

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya saya bersama teman - teman DE HMIF 2007/2008 meluncurkan blog kampanye menulis kami masing - masing. Apa sih kampanye menulis? Ngapain sih bikin gini - ginian?

Kampanye menulis adalah kegiatan non-proker yang dicanangkan untuk mendukung tercapainya salah satu misi kepengurusan HMIF 2007/2008: membudayakan menulis di HMIF. Spirit-nya begini, saya ingin menjadikan HMIF ini sebagai sebuah learning organization. Nah, aspek - aspek yang harus dicapai untuk menuju learning organization tadi tidak sedikit. Pada kepengurusan kali ini saya ingin fokus pada mengalirnya pengetahuan yang dimiliki individu - individu di HMIF sehingga dapat dimanfaatkan oleh anggota lainnya.

Maksud?

Wah, agak membingungkan ya… . Kurang lebih begini, pada salah satu referensi yang saya punya, tertulis bahwa upgrading pada sebagian orang dalam organisasi ternyata tidak membawa dampak yang sedemikian signifikan bagi kemajuan organisasi tersebut. Kenapa? Karena selama pengetahuan yang ia punya hanya disimpan bagi dirinya sendiri maka pengetahuan tersebut hanya akan bermanfaat bagi orang yang memilikinya.

Nah, saya sangat yakin bahwa kedepannya teman - teman DE akan banyak sekali mendapat pembelajaran dari menjalankan tugasnya selama kepengurusan. Pengetahuan yang didapat oleh teman - teman DE tadi sangat sayang rasanya kalau hanya disimpan oleh masing - masing pribadi saja. Melalui blog kampanye menulis ini, saya berharap kami lantas dapat membagi apa - apa yang kami alami yang mungkin dapat diambil pembelajarannya oleh kami dan siapa pun yang membaca blog kami.

Harapan lainnya juga akhirnya teman - teman HMIF juga tertarik untuk saling berbagi pengalaman - pengalaman yang bisa dijadikan pembelajaran bagi semua. Kan yang dapet pembelajaran bukan cuma DE doang. ^-^ 

Mari menulis!!! 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer