February 18, 2008

LOST: The Trilogy Completed, Berapa Jumlah Pintu Istora Senayan?

Bagian terkahir dari LOST yang ingin saya share adalah sesi dengan Mas Eko Prasetyo. LOST bukanlah kali pertama saya bertemu dengan beliau. Oleh karena itu, saya sudah memiliki ekspektasi bahwa sesi ini akan penuh tawa meskipun berlangsung pada jam 1 – 3: prime time untuk mengantuk dan tidur siang. Pastinya berat membawakan materi “filosofi pendidikan” di jam tidur ini.

Mas Eko bercerita tentang ironi – ironi penuh humor. Beliau bercerita tentang presiden Chile, Hugo Chaves. Ketika terpilih, Chaves berpidato yang menyatakan bahwa ia memotong gaji dirinya dan seluruh kabinet 50% dan pemotongan tersebut akan digunakan bagi kemakmuran rakyat. Saya yang bukan warga Chile saja merinding mendengarnya. Pemimpin saya juga membuat saya merinding sih, dengan mengeluarkan sebuah album lagu! Ya, betul, itulah yang kita butuhkan…, itulah yang Indonesia butuhkan untuk menjawab kelangkaan minyak tanah, untuk menanggulangi banjir dan bencana di seluruh nusantara, untuk mempertahankan aset dalam negeri dari tangan asing, kita butuh… pemimpin yang meluncurkan album! Pemilu berikut saya rasa Ahmad Dhani harus mencalonkan diri kalau begtitu. Oh tak perlu, dia kan sudah punya Republik Cinta.

“Berpuluh tahun kami nantikan
pemimpin yang mendengarkan,
hati yang mengerti
di negeri ini

Tak kunjung datang
ataukah memang tak dilahirkan oleh Tuhan”
dari ah.. saya lupa judul lagunya, karangan Franky Salihatua

 

Mas Eko bercerita tentang kenapa Aburizal Bakrie seharusnya mendapatkan nobel sains karena temuan spektakuler: perusahaan gas alam yang bisa mengeluarkan lumpur. Bercerita tentang pertanyaan pada buku PPKn “kearah mana kepala burung garuda menghadap”, tentang pertanyaan dalam buku penjaskes “berapa jumlah pintu Istora Senayan” (what does it have to do with penjaskes!), dan beragam lelucon tentang kondisi pendidikan dan sosial politik bangsa ini.

Beliau bercerita bagaimana negara – negara Amerika Latin dan Iran saja mampu memberikan pendidikan murah, jika tidak gratis, pada warga negaranya. Beliau bercerita bahwa ”perpustakaan” di Iran adalah tempat yang paling ramai di kampus dan bagaimana di Indonesia peran tersebut ternyata diisi oleh “kantin”. Setiap kali kita membicarakan pendidikan murah di Indonesia, selalu saja para pakar berkata, “itu kan Cuma bisa dilakukan sama negara maju macam Jerman saja”. Tapi negara – negara berkembang yang diceritakan Mas Eko bisa.

Makanya, saya sangat salut dengan apa yang dilakukan Mas Budiono dan kawan – kawannya di kementrian PM, kabinet KM ITB: rumah belajar gratis. Small step for giant leap. Salut. Saya? Sekarang mau belajar untuk bersyukur atas pendidikan tinggi yang mahal ini dulu deh: menggunakan setiap detiknya untuk bermanfaat. Setelah turun jadi kahim, insya Allah mau gabung dengan rumah belajar. Katanya kan, “khairu kum anfaukum linnas, sebaik baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi ummat manusia lain”.

September 29, 2007

Peka deh!

Filed under: Habis ketemu orang

Maaf baru posting, seperti yang telah dijelaskan disini, bulan September ini saya jarang online. Jarang juga akhirnya menulis. Aduh! Gimana sih, katanya mau kampanye menulis! Ok, mari kita masuk ke inti permasalahan.

Bagaimanapun bencinya, saya salut dengan Microsoft: peka isu! Maksudnya? Jika Anda kebetulan tahu soal kompetisi bernama Imagine Cup (saya tidak akan repot - repot memberi link nya disini karena: 1. Saya bukan Microsoft Students Ambassador, 2. Jika Anda membuka situs tersebut dengan Mozilla maka Anda akan mengalamai pengalaman internet dengan kecepatan luar biasa lambat!), melihat tema kompetisi tersebut tahun ini pasti Anda akan sepakat dengan saya.

"Imagine the world where technology enable sustainable environment" (atau kurang lebih begitulah :D )

Lalu, apa istimewanya?

Istimewanya… karena ternyata topik ini adalah isu dunia saat ini! Buktinya? Demi mengikuti kompetisi Imagine Cup ini, setiap minggunya saya dan tim Rajawali selalu menyisihkan hari Jumat kami untuk mempersiapkan tim. Salah satu persiapan kami adalah dengan berdiskusi dengan sebanyak mungkin pakar dan lembaga lingkungan hidup.  Dan! Ternyata semua pihak tersebut menunjuk sebuah event yang sama: konferensi internasional 3 - 14 Desember di Bali!

Konferensi ini akan membahas mengenai lingkungan hidup, lebih khusus lagi tindak lanjut dari protokol Tokyo (eh, Kyoto atau Tokyo ya? lupa :p). Sekitar 8000 orang akan hadir di Bali. Seluruh gubernur dari seluruh dunia dijadwalkan akan ikut. Demikian juga lembaga - lembaga lingkungan hidup. Selama konferensi, Bali akan menjadi kawasan hukum internasional. Pokoknya, luar biasa gempar lah konferensi ini!

Saya sungguh salut dengan pihak manajerial Microsoft. Mereka tanggap terhadap isu yang sedang ‘happening‘. Pemikiran sederhana saya, katakanlah konferensi di Bali ini menghasilkan suatu kebijakan tentang lingkungan hidup, dan katakanlah para peserta Imagine Cup berbondong - bondong mencoba membuat teknologi yang bisa mendukung kebijakan tersebut. Anda bisa bayangkan? Betapa populernya framework dan kakas pengembangan milik Microsoft nanti!

Ya, itulah! Semoga teman - teman di komunitas Open Source bisa berjuang untuk mematahkan dominasi si Mikocok ini. Mari kita lebih tanggap terhadap isu. Mohon maaf, saya masih belum bisa berpartisipasi aktif disana. Untuk rekan - rekan yang ingin mengikuti kompetisi Imagine Cup, ada baiknya memberi perhatian terhadap konferensi internasional tersebut. Mari kita berkompetisi! :D  

June 3, 2007

ITB Goes To School

Barusan ada tamu spesial datang ke himpunan. Ketua OSKM ITB 2007, Agung namanya. Mas Agung ini ternyata pingin silaturahmi dengan himpunan - himpunan terutama untuk mensosialisasikan perkembangan OSKM sejauh ini.

Berceritalah mas Agung ini tentang konsep OSKM yang baru nanti. OSKM 2007 nanti rencananya hanya memberi penekanan kepada dua hal : pengenalan kehidupan kampus dan pengenalan falsafah - falsafah kemahasiswaan. Sampai titik ini saya setuju. Saya tidak terlalu peduli bagaimana metode OSKM nanti, yang terpenting adalah falsafah - falsafah ini disampaikan. Sejujurnya, karena OSKM 2004 lah saya akhirnya beraktivitas seperti ini.  Saya waktu itu tergugah banget dengan hal - hal seperti: Iron Stock, Agent of Change dan Guardian of Value. Intinya sih, falsafah - falsafah itu yang membuat saya waktu itu berani bilang: OS saya bukan perploncoan, OS saya tidak dangkal!

Selanjutnya Agung menanyakan pendapat saya, "ada ide ga soal pengabdian masyarakat di OSKM nanti bentuknya gimana?" Akhirnya terlintas di benak saya tadi ide ini:

ITB Goes To School!!

Apa tuh?

Dasarnya adalah mahasiswa mempunyai tanggung jawab untuk mengabdi kepada masyarakatnya (ide yang sejak lama ditanamkan di kampus tercinta ini, konon ide aslinya dari Bung Hatta). Nah, untuk bisa mengabdi ke masyarakat kan sebaiknya melalui keprofesian kita. Masalahnya, mahasiswa baru bisa apa? Baru juga masuk ITB, belum punya ilmu keprofesian apa - apa.

Lantas terpikir oleh saya, kan himpunan - himpunan pasti pernah punya program pergi ke sekolah. HMIF sendiri tahun lalu pernah mengadakan "HMIF Goes To School" . Nah, kenapa tidak kita buat acara seperti itu bareng - bareng. Kita list saja, ada berapa sekolah dasar di Bandung. Lalu kita konsep kunjungan ke sekolah tersebut seperti apa. Bagi - bagi buku kah, bantuan memperbaiki fasilitas sekolah kah, ikut mengajar adik - adik SD kah, atau kombinasi dari semuanya. Semua inisiasi dilakukan oleh kita: himpunan - himpunan dan mungkin unit - unit. Dari mulai tujuan, konsep acara, target sekolah, hingga perizinan ke sekolah - sekolah yang dituju. Setelah itu, saat teman - teman 2007 datang mereka bisa mengeksekusinya dengan lancar. Katakan kita punya daftar 100 sekolah, kita distribusikan saja 3000 teman - teman 2007 ke seratus sekolah tadi. 27 HMD dan 70 sekian Unit masa’ tidak bisa menginisasi acara ke 100 sekolah?

Kenapa saya ngotot harus ada bentuk nyata pengabdian masyarakat di OSKM? Kenapa tidak cukup hanya dengan penyampaian materi saja? Karena menurut saya, pengabdian masyarakat di kemahasiswaan adalah tentang melatih kepekaan sosial: melatih sense. Sama seperti naik sepeda, Anda tidak bisa belajar naik sepeda dengan hanya diceritakan saja. Anda harus benar - benar naik dan kemudian jatuh, naik lagi dan kemudian jatuh lagi, dan setelah berulang kali jatuh Anda baru bisa mengendari sepeda. Sense Anda telah terlatih setelah sekian kali latihan tadi. (Oleh karena itu hingga hari ini saya tidak bisa naik sepeda: tidak pernah berlatih!)

Demikian pula menumbuhkan kepekaan sosial ini. Anda tidak bisa hanya bercerita, "Adik - adik, di negara kita ini banyak orang miskin lho…, banyak musibah…, banyak bla bla bla" dan kemudian berharap selepas lulus nanti mereka akan menjadi teknokrat yang peduli pada masalah bangsa. Beri mereka teori sedikit saja, beritahu masalah bangsa ini (yang sudah terlalu banyak itu). Lantas ajak mereka untuk mencoba ikut membantu mengatasi masalah meskipun hanya sepotong kecil dari bagian besar masalah bangsa ini. Yang terlintas oleh saya adalah kemudian masalah pendidikan. Potongan kecil yang saya ambil: pendidikan dasar di kota Bandung.

Kita, apalagi mahasiswa baru, bukan pakar pendidikan memang. Makanya, tentu saja solusi yang kita tawarkan tidak akan lengkap, kontinu dan sangat berkualitas. Namun apa salahnya, dengan apa yang kita punya, kita latih kepekaan kita dengan terjun kesana. Mencoba memberi sebanyak yang kita punya (meskipun itu pasti sedikit).

Oleh karena itu, diakhir obrolan kami saya meminta mas Agung ini untuk benar - benar memikirkan soal ide ITB Goes To School ini. Ide detilnya kita pikirkan lagi bareng - bareng lah. Insya Allah saya bantu. Nanti usulan yang lebih matang lagi akan saya tulis dalam bentuk draft acara dan saya berikan ke panitia OSKM 2007 lah. Semoga bermanfaat. 

 

May 19, 2007

Jangan buang sampah sembarangan ah…

Cerita ini saya dapatkan dari Dika (TL 04) sewaktu kami ngobrol – ngobrol setelah acara Forum Silaturahmi Himpunan – Unit – Kabinet. Tah! Makanya saya selalu yakin bahwa yang namanya Forsil itu pasti manfaat.

Tahukah kamu apa itu PPS? 

Sebelum menjawab itu, semua warga ITB pasti tahu bahwa di seantero kampus ini terdapat banyak tong sampah berpasangan dengan warna putih dan hitam. Nah, tentunya semua orang yang tidak buta huruf pun tahu bahwa kedua tong sampah ini punya fungsinya masing – masing, yang hitam untuk menampung sampah yang tidak dapat membusuk seperti: plastik. Botol, karet, dll; sedangkan yang putih untuk menampung sampah yang dapat membusuk seperti: kulit pisang, makanan, dll. Tapi sayang sekali ternyata banyak dari kita warga ITB yang belum memanfaatkan kedua tong sampah ini sebagaimana seharusnya. Alasan yang sering kita kemukakan adalah,

“Yah, ujung – ujungnya kan disatuin juga tuh semua sampah di TPS Taman Sari”

Anda salah!

Saya juga. Dulu saya juga pikir begitu. Saya kira semua sampah ITB ini akan bermuara juga ke TPS Taman Sari. Tidak berguna memilah sampah. Ujung – ujungnya dicampur juga!

Ternyata, semua sampah ITB bermuara ke PPS: Pusat Pengolahan Sampah. Berdasarkan cerita Dika lagi, PPS ini sudah menerapkan pengolahan sampah dengan baik. Semua sampah yang dapat membusuk diolah menjadi pupuk kompos. Dari produksi kompos ini ITB mendapatkan keuntungan paling sedikit 2 juta rupiah setiap bulannya! Sedangkan sampah – sampah yang sudah tidak tertolong lagi dimasukkan ke sebuah mesin bernama inseminator. Saya sendiri belum pernah tahu apa itu inseminator sebelumnya, yang pasti mesin ini membutuhkan suhu tinggi untuk bekerja optimal menghancurkan sampah – sampah yang tidak dapat membusuk tadi, kurang lebih 1000 derajat celcius!

Ok, dari cerita PPS ini, saya ingin menumbuhkan rasa berdosa bagi semua warga ITB yang tidak membuang sampah dengan memilah dengan cerita berikut. Yang terjadi jika kita tidak memilah terlebih dulu sampah yang akan kita buang adalah sampah – sampah tersebut harus dipisah secara manual oleh petugas PPS yang:

  • Bergaji kecil
  • Tidak dilengkapi dengan equipment memadai
  • Tidak diperhatikan
  • Tidak memiliki tempat mengadu saat terjadi musibah menimpanya saat bertugas

Akhirnya, tugas si bapak petugas PPS ini pun akan sangat terhambat jika sampah yang disodorkan kepada beliau belum dipilah. Dalam kondisi hujan turun, beliau terpaksa memasukkan semua sampah yang belum dipilah tadi kedalam mesin inseminator. Hal ini akan membuat daya kerja mesin ini menjadi memburuk. 

Untuk lebih menambah perasaan berdosa jika kita tidak membuang sampah dengan benar, saya teruskan cerita Dika pada saya. Si petugas yang dikunjungi Dika bertutur bahwa untuk memasukkan sampah ke mesin inseminator, ia harus melakukannya dengan manual. Artinya terkadang beliau harus membuka mesin bersuhu tinggi tadi untuk memasukkan sampah kedalamnya. Pada awal pekerjaannya, beliau dilengkapi dengan baju anti panas yang memadai. Namun setelah baju tersebut rusak (mungkin karena memang sudah waktunya rusak), pihak ITB tidak memberikan baju anti panas lain sebagai gantinya. Suatu kali terjadi, saat beliau memasukkan sampah ke mesin inseminator tanpa menggunakan baju anti panasnya yang sudah rusak, terkenalah tangan beliau oleh lidah api yang panas. Mengadulah beliau ke gedung Annex. Apa yang beliau terima? Santunan? Rujukan surat ke RS? Tidak! Yang beliau dapatkan adalah hanya sebuah salep! Ya, salep! Bagus jika yang memberikan salep tadi adalah pihak rumah sakit atau tenaga medis yang mengerti harus memberi treatment apa terhadap luka bakar beliau, namun yang memberikannya adalah petugas Annex dengan pengetahuan medisnya yang entah seberapa. Ok, kita cukupkan pembahasan soal gedung Annex, biasanya pembahasan soal gedung ini membuat naik darah.

Oleh karena itu, jika dapat membuat kita terenyuh, ingatlah bapak petugas PPS yang mengurusi sampah kita dengan segala deritanya saat kita hendak membuang sampah. Setidaknya, ringankanlah derita beliau dengan membuang dan memilah sampah kita sesuai tempatnya. Kalau kata Dika, “aduh, jangan zholim lah.” Ah…, saya jadi merasa berdosa sekali selama ini suka membuang sampah sesuka hati.

Jangan buang sampah sembarangan ah…

Cerita ini saya dapatkan dari Dika (TL 04) sewaktu kami ngobrol – ngobrol setelah acara Forum Silaturahmi Himpunan – Unit – Kabinet. Tah! Makanya saya selalu yakin bahwa yang namanya Forsil itu pasti manfaat.

Tahukah kamu apa itu PPS? 

Sebelum menjawab itu, semua warga ITB pasti tahu bahwa di seantero kampus ini terdapat banyak tong sampah berpasangan dengan warna putih dan hitam. Nah, tentunya semua orang yang tidak buta huruf pun tahu bahwa kedua tong sampah ini punya fungsinya masing – masing, yang hitam untuk menampung sampah yang tidak dapat membusuk seperti: plastik. Botol, karet, dll; sedangkan yang putih untuk menampung sampah yang dapat membusuk seperti: kulit pisang, makanan, dll. Tapi sayang sekali ternyata banyak dari kita warga ITB yang belum memanfaatkan kedua tong sampah ini sebagaimana seharusnya. Alasan yang sering kita kemukakan adalah,

“Yah, ujung – ujungnya kan disatuin juga tuh semua sampah di TPS Taman Sari”

Anda salah!

Saya juga. Dulu saya juga pikir begitu. Saya kira semua sampah ITB ini akan bermuara juga ke TPS Taman Sari. Tidak berguna memilah sampah. Ujung – ujungnya dicampur juga!

Ternyata, semua sampah ITB bermuara ke PPS: Pusat Pengolahan Sampah. Berdasarkan cerita Dika lagi, PPS ini sudah menerapkan pengolahan sampah dengan baik. Semua sampah yang dapat membusuk diolah menjadi pupuk kompos. Dari produksi kompos ini ITB mendapatkan keuntungan paling sedikit 2 juta rupiah setiap bulannya! Sedangkan sampah – sampah yang sudah tidak tertolong lagi dimasukkan ke sebuah mesin bernama inseminator. Saya sendiri belum pernah tahu apa itu inseminator sebelumnya, yang pasti mesin ini membutuhkan suhu tinggi untuk bekerja optimal menghancurkan sampah – sampah yang tidak dapat membusuk tadi, kurang lebih 1000 derajat celcius!

Ok, dari cerita PPS ini, saya ingin menumbuhkan rasa berdosa bagi semua warga ITB yang tidak membuang sampah dengan memilah dengan cerita berikut. Yang terjadi jika kita tidak memilah terlebih dulu sampah yang akan kita buang adalah sampah – sampah tersebut harus dipisah secara manual oleh petugas PPS yang:

  • Bergaji kecil
  • Tidak dilengkapi dengan equipment memadai
  • Tidak diperhatikan
  • Tidak memiliki tempat mengadu saat terjadi musibah menimpanya saat bertugas

Akhirnya, tugas si bapak petugas PPS ini pun akan sangat terhambat jika sampah yang disodorkan kepada beliau belum dipilah. Dalam kondisi hujan turun, beliau terpaksa memasukkan semua sampah yang belum dipilah tadi kedalam mesin inseminator. Hal ini akan membuat daya kerja mesin ini menjadi memburuk. 

Untuk lebih menambah perasaan berdosa jika kita tidak membuang sampah dengan benar, saya teruskan cerita Dika pada saya. Si petugas yang dikunjungi Dika bertutur bahwa untuk memasukkan sampah ke mesin inseminator, ia harus melakukannya dengan manual. Artinya terkadang beliau harus membuka mesin bersuhu tinggi tadi untuk memasukkan sampah kedalamnya. Pada awal pekerjaannya, beliau dilengkapi dengan baju anti panas yang memadai. Namun setelah baju tersebut rusak (mungkin karena memang sudah waktunya rusak), pihak ITB tidak memberikan baju anti panas lain sebagai gantinya. Suatu kali terjadi, saat beliau memasukkan sampah ke mesin inseminator tanpa menggunakan baju anti panasnya yang sudah rusak, terkenalah tangan beliau oleh lidah api yang panas. Mengadulah beliau ke gedung Annex. Apa yang beliau terima? Santunan? Rujukan surat ke RS? Tidak! Yang beliau dapatkan adalah hanya sebuah salep! Ya, salep! Bagus jika yang memberikan salep tadi adalah pihak rumah sakit atau tenaga medis yang mengerti harus memberi treatment apa terhadap luka bakar beliau, namun yang memberikannya adalah petugas Annex dengan pengetahuan medisnya yang entah seberapa. Ok, kita cukupkan pembahasan soal gedung Annex, biasanya pembahasan soal gedung ini membuat naik darah.

Oleh karena itu, jika dapat membuat kita terenyuh, ingatlah bapak petugas PPS yang mengurusi sampah kita dengan segala deritanya saat kita hendak membuang sampah. Setidaknya, ringankanlah derita beliau dengan membuang dan memilah sampah kita sesuai tempatnya. Kalau kata Dika, “aduh, jangan zholim lah.” Ah…, saya jadi merasa berdosa sekali selama ini suka membuang sampah sesuka hati.

May 15, 2007

Asistensi Ruarrrrr Biasa!!

Filed under: Habis ketemu orang

Awalnya saya kira asistensi itu akan menjadi.. ya seperti biasanya asistensi saja. Tidak ada yang terlalu istimewa. Saya tidak sedang bilang asistensi yang selama ini diselenggarakan dengan asal - asalan saja oleh para pihak yang berwenang lho. Sama sekali tidak. Saya hanya bilang asistensi yang akan saya ceritakan lebih istimewa dari yang biasanya saya alami.

Saat tulisan ini saya publish, asistensi luar biasa tersebut belumlah beberapa jam berlalu. Tepatnya pukul 3 sore tadi, saya dan kelompok tugas IF3261 mengadakan asistensi di lab SI. Awal asistensi, sang asisten ternyata langsung menanyakan sebuah pertanyaan yang berbeda dari biasanya, "dapet apa dari MPPL?" Dung! Wah, sangat jarang sekali ada pertanyaan seperti ini di asistensi, kalau di kaderisasi sih sering, "apa yang kalian dapatkan dari kaderisasi ini?"

Tumpahlah segala uneg - uneg dari saya dan temen - temen KutuBuku*. Mulai dari kesulitan yang ditemui dalam pengerjaan, masalah tentang MVC** dan kawan  - kawannya, hingga kritik terhadap penyelenggaraan kuliah. Setelah sesi uneg - uneg, tibalah waktunya si kakak asisten yang bijak memberikan feedback. Saya begitu tergugah dengan apa yang beliau sampaikan. Emang bilang apa sih asisten lu?

Asisten saya bilang bahwa pelajaran ini hendaknya tidak cuma diterapkan dalam mengerjakan tugas kuliah. Manajemen hendaknya diterapkan dalam (meminjam istilah beliau) ‘real life‘. Beliau bercerita bagaimana ia me-manage perkuliahannya sebagai contoh. Beliau me-manage hal - hal seperti: semester ini saya harus bisa apa, parameternya dengan IP berapa; hingga: nanti lulus harus punya spesifikasi apa. Wow!

Saya takjub. Jujur saja, kehidupan akademis saya tidak sehat. Saya tidak pernah memikirkan semester ini saya harus bisa apa. Pernah sekali saya mentargetkan bahwa saya harus lulus ujian SCJP, itu pun gagal saya realisasikan. Rasanya setiap semester saya hanya menjalani rutinitas saja: perwalian; mengambil KSM; ikut perkuliahan; mengerjakan tugas; belajar jika menjelang kuis, UTS dan UAS; lantas tiba - tiba sudah perwalian lagi! Ah, merugi sekali kehidupan akademis saya selama 3 tahun ini!

Padahal saat menangani beberapa hal dalam kegiatan lain saya melakukan manajemen. Ketika memegang amanah jadi ketua Mukrab dulu, misalnya, saya dan teman - teman panitia sama - sama melakukn planning: mau bagaimana Mukrab kita, apa tujuannya.  Lantas kita organizing: bagaimana mencapai apa yang kita rencanakan. Kita lalu actuating: melaksanakan apa - apa yang telah kita rencanakan dan atur. Lantas kita lakukan controlling: tercapaikah parameter keberhasilannya, dll.

Ah, merugi sekali kehidupan akademis saya 3 tahun terkahir ini! Tidak jelas benar apa yang ingin saya capai dalam perkuliahan tiap semesternya. Saya hanya mengikuti rutinitas. Kalaupun ada manajemen yang saya lakukan adalah manajemen mengahadapi rutinitas tadi: persiapan tugas, persiapan UTS, persiapan UAS; dan bukannya melakukan manajemen terhadap pencapaian pribadi dalam bidang akademis. Akhirnya, saya tidak pernah dapat menilai diri sendiri secara objektif dalam pencapaian akademis. Bukan tentang IP, bukan. Lebih pada: apa yang ingin saya capai pada tiap aspek akademis saya. Katakanlah pada beberapa kuliah saya hanya ingin ‘lulus dengan nilai baik’, atau bahkan pada beberapa kuliah lain sekedar ‘lulus dengan nilai cukup’, namun tentunya seharusnya ada beberapa kuliah yang saya targetkan, "harus bisa xxxxxx", katakan  xxxxxx tadi kita ganti dengan ‘MVC dengan PHP’ atau ‘Paham PostgreSQL’ atau ‘Paham object oriented programming dengan baik’. Tidak perlu semua kuliah memang, setidaknya demikian menurut saya. Toh, diakhir saya hanya akan mendalami salah satu keahlian yang diajarkan di IF dalam pembuatan Tugas Akhir.

Duh, merugi sekali saya.  Tapi, too late is better than neverOk, semester ini hampir berakhir, tapi saya masih bisa membuat resolusi akhir semester dan resolusi untuk Kerja Praktek. Resolusi akhir semester ini saya coba canangkan sekarang: "paham dan mampu mengimplementasikan MVC dengan PHP dengan baik" . Ok, bukan resolusi yang istimewa mungkin buat sebagian besar mahasiswa IF 2004, tapi buat saya itu adalah satu langkah berarti. Mengutip seseorang, "I lose, indeed. Just hope that, in winning I earn, in losing I learn!"

 

Kosakata:

* KutuBuku adalah nama kelompok tugas Proyek Perangkat Lunak saya

** In case yang membaca bukan orang IF, MVC singkatan dari Modeller-Viewer-Controller, salah satu kerangka kerja yang biasa dipakai dalam membuat program/software dengan pendekatan object oriented

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer