February 18, 2008

LOST: The Trilogy Completed, Berapa Jumlah Pintu Istora Senayan?

Bagian terkahir dari LOST yang ingin saya share adalah sesi dengan Mas Eko Prasetyo. LOST bukanlah kali pertama saya bertemu dengan beliau. Oleh karena itu, saya sudah memiliki ekspektasi bahwa sesi ini akan penuh tawa meskipun berlangsung pada jam 1 – 3: prime time untuk mengantuk dan tidur siang. Pastinya berat membawakan materi “filosofi pendidikan” di jam tidur ini.

Mas Eko bercerita tentang ironi – ironi penuh humor. Beliau bercerita tentang presiden Chile, Hugo Chaves. Ketika terpilih, Chaves berpidato yang menyatakan bahwa ia memotong gaji dirinya dan seluruh kabinet 50% dan pemotongan tersebut akan digunakan bagi kemakmuran rakyat. Saya yang bukan warga Chile saja merinding mendengarnya. Pemimpin saya juga membuat saya merinding sih, dengan mengeluarkan sebuah album lagu! Ya, betul, itulah yang kita butuhkan…, itulah yang Indonesia butuhkan untuk menjawab kelangkaan minyak tanah, untuk menanggulangi banjir dan bencana di seluruh nusantara, untuk mempertahankan aset dalam negeri dari tangan asing, kita butuh… pemimpin yang meluncurkan album! Pemilu berikut saya rasa Ahmad Dhani harus mencalonkan diri kalau begtitu. Oh tak perlu, dia kan sudah punya Republik Cinta.

“Berpuluh tahun kami nantikan
pemimpin yang mendengarkan,
hati yang mengerti
di negeri ini

Tak kunjung datang
ataukah memang tak dilahirkan oleh Tuhan”
dari ah.. saya lupa judul lagunya, karangan Franky Salihatua

 

Mas Eko bercerita tentang kenapa Aburizal Bakrie seharusnya mendapatkan nobel sains karena temuan spektakuler: perusahaan gas alam yang bisa mengeluarkan lumpur. Bercerita tentang pertanyaan pada buku PPKn “kearah mana kepala burung garuda menghadap”, tentang pertanyaan dalam buku penjaskes “berapa jumlah pintu Istora Senayan” (what does it have to do with penjaskes!), dan beragam lelucon tentang kondisi pendidikan dan sosial politik bangsa ini.

Beliau bercerita bagaimana negara – negara Amerika Latin dan Iran saja mampu memberikan pendidikan murah, jika tidak gratis, pada warga negaranya. Beliau bercerita bahwa ”perpustakaan” di Iran adalah tempat yang paling ramai di kampus dan bagaimana di Indonesia peran tersebut ternyata diisi oleh “kantin”. Setiap kali kita membicarakan pendidikan murah di Indonesia, selalu saja para pakar berkata, “itu kan Cuma bisa dilakukan sama negara maju macam Jerman saja”. Tapi negara – negara berkembang yang diceritakan Mas Eko bisa.

Makanya, saya sangat salut dengan apa yang dilakukan Mas Budiono dan kawan – kawannya di kementrian PM, kabinet KM ITB: rumah belajar gratis. Small step for giant leap. Salut. Saya? Sekarang mau belajar untuk bersyukur atas pendidikan tinggi yang mahal ini dulu deh: menggunakan setiap detiknya untuk bermanfaat. Setelah turun jadi kahim, insya Allah mau gabung dengan rumah belajar. Katanya kan, “khairu kum anfaukum linnas, sebaik baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi ummat manusia lain”.

LOST: The Second Season, Tak Ada Benda 100% Gelap

Filed under: Uncategorized

Sesi selanjutnya dari LOST yang sangat membekas pada diri saya adalah sesi dengan Bang Fajrul Rahman. Meskipun gaya berbicara Bang Fajrul kadang agak “gimana gitu” namun saya berusaha mengesampingkannya dan tetap fokus pada apa yang beliau sampaikan. Dalam hal mendengar orang, saya rasa pepatah “Unzhur ila ma qola, wa la tanzhur ila man qola”: dengar apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang berbicara (terjemahan yang agak janggal sebenarnya karena arti kata “unzhur” adalah “lihat”).

Bang Fajrul menampilkan data – data betapa Indonesia memiliki ketimpangan yang luar biasa. 40 orang terkaya di Indonesia rata – rata memiliki kekayaan empat koma sekian triliun sedangkan sebagian lagi mati busung lapar (Bang Fajrul membawa scan koran Kompas hari itu, berisi potongan berita bayi busung lapar meninggal di… Banten, tak begitu jauh dari ibukota). Gambaran yang luar biasa absurd bagi saya.

Bang Fajrul pun terus membobardir kami dengan beragam cerita yang membuat saya miris. Betapa ia dulu untuk sekedar duduk berdiskusi saja harus dikejar – kejar tentara dan polisi. Betapa ia dan mahasiswa ITB dahulu harus menuju penjara demi suatu kata yang mungkin hanya menjadi bahan tertawaan oleh “anak jaman sekarang”: idealisme. Dan… Bang Fajrul semakin menguatkan hati saya bahwa Soeharto tidak pantas disebut pahlawan. Hehe.

Ada dua hal yang sangat berkesan sekali bagi saya. Pertama komentar Bang Fajrul tentang apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang aktivis. Beliau bilang, “integritas moral dan prestasi”. Huk! Saya tertampar. Mencontek itu korupsi kecil – kecilan, pun copy paste, pun kelakuan curang lainnya. Saya sungguh salut saat beliau bilang bahwa beliau tidak pernah mencontek. Saya mungkin tidak mencontek pada ujian, tapi integritas moral saya dalam hal lain patut dipertanyakan memang. Apalagi kalau berbicara prestasi…, duh Gusti… ampuni hamba! Makanya, jadilah resolusi ini saya mantapkan. Bismillah… .

Hal berkesan kedua adalah ketika seorang peserta berkomentar, ”Bang, kayanya bangsa kita ni udah bobrok segala aspek. Udah hopeless, udah ga ada harapan. Bisa apa kita Bang?” Bang Fajrul menjawab dengan perumpamaan yang luar biasa: “Tidak ada ada benda yang seratus persen gelap. Belajar fisika toh?” Betul. Pun, ga ada kegelapan mutlak, selalu ada cahaya. Nyalakan saja lilinmu dulu, tak perlu kau kutuki kegelapan itu. Déjà vu… ah iya, Pak Gede Rake pun pernah mengajarkan hal yang sama pada sesi terakhir kuliah Maninov. Baik… just light a candle rather than curse the darkness.

Makasih, Bang, mengembalikan semangat saya… .

“Blow out the candle,
I will burn again tomorrow”
dari lagu “Inside and Out” oleh Feist

LOST : The First Season, How to Teach A Frog Flying in 24 Hours

Filed under: Uncategorized

Tepat seminggu yang lalu, saya mengikuti sebuah acara yang sangat bagus: LOST a.k.a Leadership Osesuatu Ssesuatu Training. Fufufu! Saya lupa kepanjangan sebenarnya. Tak apalah. Sebenarnya pun si LOST ini memang nama yang dibuat – buat demi membungkus TFT calon panitia kaderisasi STEI. Apalah arti sebuah nama, toh yang kita sebut mawar akan tetap berbau sama harum meskipun kita sebut “kodok”. Shakespare mungkin menangis di alam baka sana jika tahu bahwa quote terkenalnya diterjemahkan sedemikian ngawur. But, please, call me with my name… ortu saya aqiqah dua kambing untuk nama itu. Ok? Let’s get distracted no more, and we go to the real subject.

 Biasanya saya memiliki persepsi yang cukup buruk terhadap para trainer, terutama mereka yang tidak memiliki portofolio selain menjadi trainer. Oleh karena itu, pembicara yang pertama kali hadir sangat memikat hati saya karena beliau bukan trainer. Namanya Rama Royani, karena beliau sudah tua dan beliau meminta dipanggil demikian (katanya untuk branding :D ), mari kita sebut saja beliau dengan Abah Rama.

Abah Rama membawa sebuah wacana yang cukup “kontroversial” bagi saya. Sebagai seorang yang mengagungkan pentingnya visi, saya cukup terkejut dengan apa yang disampaikan Abah Rama, “Misi dulu, baru Visi”. Woa! 

Menurut beliau, Misi adalah alasan keberadaan sedangkan Visi adalah tujuan di masa depan. Dengan demikian, Misi ibarat sebuah amanah yang dititipkan oleh Sang Pencipta kepada kita. Menurut beliau, semua orang dibekali misi dan oleh karena itulah semua orang diberi bakat yang berbeda: tiap bakat adalah tools untuk menjalankan misi yang dibebankan Allah pada kita.

Beliau kemudian member sebuah analogi yang menarik. Sebuah gambar kapak dipaparkan di layar dan kemudian beliau bertanya, “jika Anda diberi kapak ini, bagian mana yang Anda akan asah?” Tentu semua yang hadir tertawa karena merasa itu pertanyaan bodoh. Beliau melanjutkan, “Anda mungkin sekarang tertawa, tapi nanti kita saksikan bahwa ternyata.. kita lebih sering mengasah bagian tumpul dari kapak yang kita miliki”. Dan apa yang disampaikannya kemudian membuat saya tercengang!

He is right! Kita lebih sering berusaha menutupi kekurangan kita daripada memanfaatkan kelebihan kita. Check this out: yang merasa hitam membeli pemutih, yang merasa kurus membeli weight gain (percayalah, bukan pengalaman pribadi saya… because I’m slim, not thin :p), yang merasa gemuk mati – matian berusaha menguruskan diri. Itu baru soal fisik. Belum lagi potensi lainnya… . Well, it got me.

Toh semua orang kan diberi bakat yang berbeda. Sebagian jago matematik, berhitung dan logika sedangkan sebagian lainnya pandai bermusik atau jago olahraga. Sebagian pandai beretorika, sebagian pandai menulis, sebagian pandai lainnya entah apa. But we seem to care so much about what we can’t and what we don’t have. Padahal nampaknya masuk akal bahwa tidak terlalu berguna mengasah bagian tumpul dari diri kita, laksana mengajar kodok cara terbang. Well… please tell me if one day someone really ever write a book “How to Teach A Frog Flying in 24 Hours”. Ibarat bermain DoTa, tak ada guna memberikan Juggernaut item Aganim. Ibarat bermain FM, tidak ada guna pula melatih DC dengan porsi shooting yang besar. Ibarat… apalagi ya? Cari saja sendiri. :p

Memang… satu masalahnya, apa ya bakat kita? Wah, sulit itu. Sulit sekali. Karena kadang lingkungan di sekitar justru tidak menumbuhkan bakat kita. “Ngapain kamu maen bola? Mau jadi pemain bola? Heh? Mau hidup miskin ya? Mau dipukulin sama suporter ya? Heh!” Padahal jangan – jangan kita baru saja membunuh bakat seorang Pele in the make.

Tapi, untuk satu hal, saya tidak sepakat dengan Abah Rama: leadership. Karena menurut saya, leadership bukan bakat melainkan misi. Hehe. Karena kita semua diciptakan sebagai khalifah… being a leader is a must, being a good leader is a choice. Ada teori menarik yang saya dapat dari sebuah buku: leadership sometimes could mean caring, sometimes protecting, sometimes directing, sometimes showing, sometimes inspiring, sometimes you define it yourself. Makanya, saya masih yakin bahwa semua orang bisa menemukan gaya memimpinnya sendiri… berdasarkan bakatnya masing – masing.

Tapi, anyway, makasih ya Abah Rama atas sesi training yang menarik. Makasi juga buat panitia LOST yang meskipun little in number tapi very big in workrate, spirit and determination. Fufufufu.

 

“You could spend a whole life looking for something
Something that might be right in front of your eyes
But you’ll be looking for something else

We all want something else
We all want something we don’t have
Maybe a roll in the dirt, or a seat first class
We all want something we can’t have”
dari lagu “Something Else” oleh Good Charlotte dalam “Good Morning Revival”

February 9, 2008

Laskar Kesiangan

Filed under: Uncategorized

Akui saja…, setahun belakangan ini sulit sekali bagi saya untuk benar – benar membaca buku habis dari awal hingga akhir. Ketika masih remaja dulu (cie….. sekarang udah gede ye?), saya sanggup menghabiskan buku “Roman Sejarah Muhammad Sang Pembebas” dalam tiga hari saja. Itupun sudah dengan mengulur – ngulur waktu dengan selalu membaca bab pendahuluan dan pengantar penerbit. Setahun terakhir ini, rasanya belum satu judul buku pun yang habis saya baca! Ah… betapa!

Demikian, hingga detik ini saya belum pula rampung membaca Laskar Pelangi yang entah sejak berapa bulan lalu saya beli (berlaku juga pada sekian banyak buku lainnya L). Sekarang kebetulan saya sedang kembali berusaha merampungkan membaca Laskar Pelangi karena konon panitia Pekan Baca Tulis sedang mencari moderator untuk sesi talkshow dengan Andrea Hirata. I don’t want to miss that! Dan… satu hal yang sangat disyaratkan: pernah membaca salah satu tetralogi Laskar Pelangi karangan beliau. Oke, mari kita lanjutkan membaca Laskar Pelangi sekarang!

Satu hal dari buku ini yang sangat menyentuh saya: pendidikan itu priceless! Tokoh – tokoh dalam buku ini begitu miskin, namun begitu bersemangat dalam mengenyam pendidikan. Cerita tentang Lintang yang mengarungi jalan puluhan kilometer penuh buaya menuju sekolah sungguh mengharukan hati saya, perjalanan dari kos saya ke kampus hanya membutuhkan waktu 10 menit, itupun dengan berjalan santai. Tapi saya ternyata bodoh dan tidak tahu bersyukur dengan segala kemudahan akses saya terhadap pendidikan. Padahal mungkin orang seperti tokoh Lintang sangat mendamba untuk mendapatkan akses pendidikan semudah yang saya dapat. Ah! Menyesal, menyesal, menyesal!

Oleh karena itulah pada salah satu resolusi saya tahun ini saya lantas mewajibkan diri untuk mencapai prestasi akademis yang baik, biar ga kufur nikmat! Kuwalat nanti!

Mengutip kembali kutipan yang disampaikan oleh Mas Budiono dalam dialekta “Sekolah untuk Siapa”: kuliah adalah impian mewah bagi orang dusun pedesaan, tapi kuliah sekedar formalitas untuk anak mami yang kuliah untuk sekedar menjaga gengsi. Saya mungkin anak mami, punya segala kemudahan untuk mengenyam pendidikan tinggi, tapi saya tak ingin kuliah sekedarnya. Ingin berprestasi, ingin berkontribusi. Ah… where have I been these three years?

Seandainya Saya Menjadi Seorang Mentor

Filed under: Kampusku Rumahku

Hmm.. lama tak posting. Consistency is indeed a hard thing! Mengawali come back saya ke dunia blogging, kedua blog saya isi dengan resolusi. Kalau blog yang itu berisi resolusi pribadi, blog yang ini akan diisi dengan resolusi yang saya berikan pada panitia kaderisasi STEI sebagai prasyarat sebagai seorang mentor. Ini sekedar copy paste saja. Tapi rasanya tak ada salahnya di-post disini. Semoga tidak terlihat sebagai ekstrovert. Hehe.

Bagi saya, menjadi mentor merupakan sebuah tugas yang berat. Seorang mentor haruslah dapat menjadi teladan, menjadi inspirasi dan menjadi sosok pendidik bagi padawan – padawan yang dimentorinya. Memberi teladan saja sulit, apalagi menjadi teladan. Mencari inspirasi saja sulit, apalagi menjadi inspirasi. Menjadi peserta didik saja sulit, apalagi menjadi seorang pendidik. Oleh karena itu, saya sangat yakin bahwa tugas menjadi mentor ini merupakan sebuah tugas yang tidak ringan.

Maka, seandainya saya menjadi seorang mentor, maka saya hanya dapat menjajikan satu hal pada rekan – rekan panitia kaderisasi: saya akan berusaha menjadi sosok yang dapat menjadi teladan, member inspirasi, dan mendidik dengan baik. Resolusi yang terlihat gagah, namun jelas bukan perkara mudah. Berikut adalah langkah yang saya akan ambil demi mewujudkan resolusi tadi dalam bentuk yang konkret:

1. Belajar berintegritas

Bagi saya, integritas kini menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan bagi seorang pengkader. Apalagi sebagai seorang mentor yang haruslah bisa menjadi teladan. Oleh karena itu, saya ingin belajar berintegritas dalam menjalankan peran saya sebagai seorang mentor. Apa – apa yang saya sampaikan pada rekan – rekan peserta mentoring akan berusaha saya amalkan. Apa – apa yang belum baik dari diri saya berkaitan dengan apa yang saya sampaikan dalam kaderisasi, akan saya perbaiki. Singkat kata saya akan berusaha menyeleraskan antara apa yang saya ucapkan dan sampaikan pada peserta mentoring dengan apa yang saya perbuat dalam kehidupan sehari – hari saya.

 

2. Belajar berprestasi

Berprestasi adalah sebuah hal yang sudah lama tidak saya miliki. Pencapaian akademis saya menengah kebawah, demikian pencapaian diluarnya. Oleh karena itu, demi menjadikan diri sebagai mentor yang inspiratif, saya akan berusaha berprestasi baik di semester ini, baik secara akademis maupun non akademis.

 

3. Belajar tentang pendidikan, belajar mendidik, dan belajar bersama dengan para peserta didik

Pendidikan adalah tema yang baru bagi saya, karena saya selama ini lebih banyak menjadi peserta didik. Oleh karena itu, saya akan banyak belajar tentang pendidikan dan belajar menjadi seorang pendidik yang baik bagi peserta mentoring. Selain itu, saya sangat menekankan bahwa saya ingin belajar bersama para peserta didik karena saya bukanlah sumber ilmu. Oleh karena itu, saya tidak akan menganggap bahwa suara sayalah kebenaran. Saya akan berusaha sekerasnya agar para peserta didik dapat menggali potensi dirinya dan membawa kelompok untuk bersama – sama mempelajari berbagai hal.

 

Semakin banyak janji, semakin banyak hutang. Semakin banyak pula yang akan ditagihkan kepada saya. Maka, saya cukupkan sekian saja. Jika rekan – rekan panitia menemukan ketidaksesuaian antara apa yang saya janjikan dengan apa yang saya laksanakan, silakan ditegur dan diingatkan. Semoga kaderisasi yang kita lakukan membawa hal positif bagi semua pelakunya.

 

September 29, 2007

Peka deh!

Filed under: Habis ketemu orang

Maaf baru posting, seperti yang telah dijelaskan disini, bulan September ini saya jarang online. Jarang juga akhirnya menulis. Aduh! Gimana sih, katanya mau kampanye menulis! Ok, mari kita masuk ke inti permasalahan.

Bagaimanapun bencinya, saya salut dengan Microsoft: peka isu! Maksudnya? Jika Anda kebetulan tahu soal kompetisi bernama Imagine Cup (saya tidak akan repot - repot memberi link nya disini karena: 1. Saya bukan Microsoft Students Ambassador, 2. Jika Anda membuka situs tersebut dengan Mozilla maka Anda akan mengalamai pengalaman internet dengan kecepatan luar biasa lambat!), melihat tema kompetisi tersebut tahun ini pasti Anda akan sepakat dengan saya.

"Imagine the world where technology enable sustainable environment" (atau kurang lebih begitulah :D )

Lalu, apa istimewanya?

Istimewanya… karena ternyata topik ini adalah isu dunia saat ini! Buktinya? Demi mengikuti kompetisi Imagine Cup ini, setiap minggunya saya dan tim Rajawali selalu menyisihkan hari Jumat kami untuk mempersiapkan tim. Salah satu persiapan kami adalah dengan berdiskusi dengan sebanyak mungkin pakar dan lembaga lingkungan hidup.  Dan! Ternyata semua pihak tersebut menunjuk sebuah event yang sama: konferensi internasional 3 - 14 Desember di Bali!

Konferensi ini akan membahas mengenai lingkungan hidup, lebih khusus lagi tindak lanjut dari protokol Tokyo (eh, Kyoto atau Tokyo ya? lupa :p). Sekitar 8000 orang akan hadir di Bali. Seluruh gubernur dari seluruh dunia dijadwalkan akan ikut. Demikian juga lembaga - lembaga lingkungan hidup. Selama konferensi, Bali akan menjadi kawasan hukum internasional. Pokoknya, luar biasa gempar lah konferensi ini!

Saya sungguh salut dengan pihak manajerial Microsoft. Mereka tanggap terhadap isu yang sedang ‘happening‘. Pemikiran sederhana saya, katakanlah konferensi di Bali ini menghasilkan suatu kebijakan tentang lingkungan hidup, dan katakanlah para peserta Imagine Cup berbondong - bondong mencoba membuat teknologi yang bisa mendukung kebijakan tersebut. Anda bisa bayangkan? Betapa populernya framework dan kakas pengembangan milik Microsoft nanti!

Ya, itulah! Semoga teman - teman di komunitas Open Source bisa berjuang untuk mematahkan dominasi si Mikocok ini. Mari kita lebih tanggap terhadap isu. Mohon maaf, saya masih belum bisa berpartisipasi aktif disana. Untuk rekan - rekan yang ingin mengikuti kompetisi Imagine Cup, ada baiknya memberi perhatian terhadap konferensi internasional tersebut. Mari kita berkompetisi! :D  

August 28, 2007

Sumber Terbuka

Tulisan ini adalah repost dari blog saya yang satu lagi.

Semakin hari, telinga kita yang orang Indonesia ini semakin akrab dengan bahasa Inggris ya? Coba sesekali mainlah ke labtek lima. Gunakan lift untuk naik ke lantai empat. Di ujung kiri lorong, Anda akan menemukan lab tiga. Disanalah lab khusus bagi mahasiswa yang ingin menggunakan laptop. Kebanyakan mereka, bermodalkan koneksi kabel LAN ataupun wireless, sedang asik browsing, entah sekedar membaca email atau chatting. Tak sedikit pula yang menggunakan lab untuk bermain game online.

Hehe.

Kenapa ya? Bisa banyak alasan. Yang jelas, entah kenapa bahasa Inggris bisa membuat kata – kata yang sesungguhnya janggal jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi terdengar ‘keren’. Contoh yang paling umum adalah di dunia musik dan film. Anda tidak terganggu kan dengan judul - judul lagu Linkin Park seperti “Crawling” atau ‘’Numb”. Coba bayangkan jika kita terjemahkan judul – judul tersebut menjadi “Merangkak” dan “Kaku”. Demikian pula dengan nama – nama band seperti “Funeral for a Friend”, “My Chemical Romance” atau “The Rolling Stones” yang tidak terasa janggal seperti “Pemakaman untuk Seorang Teman”, “Kisah Cintaku yang Berkimia’ atau “Batu Bergulir”. Untuk film saya ingin ambil contoh “Original Sin”, jika diterjemahkan jadi “Dosa Asli”, seperti judul film – film murah tak berkelas macam “Ranjang Ternoda” atau “Gairah Membara” saja.

Mungkin itu sebabnya para penyiar radio di stasiun radio yang ‘gaul’ gemar berbahasa Inggris. Menurut saya, salah satu karir menarik bagi mereka jika pensiun dari profesi penyiarnya adalah menjadi pengajar bahasa Inggris. Terbayang percakapan seperti ini, “Ok class, let’s move on to next chapter! This one great chapter is from Stroustroup with The Art of Programming! Check this out!

Makanya saya senang dan bangga sekali dengan tema OSKM 2004 yang saya ikuti dulu. Indonesia banget lah. Peserta dipanggil sebagai “Satria” dan “Srikandi”, lantas panitia disebut dengan “Kawula”. Ada Kawula Rahwana (amarah membawa bencana), Kawula Mandala (aman dan lancar), Kawula Husada, dan Kawula Punggawa (dua yang terakhir saya lupa kepanjangannya). Tema terbagus yang pernah ada di OSKM, saya rasa. Saya iri pada orang – orang yang bisa membuat terminologi bahasa Indonesia yang menarik…. .

Diluar hal itu, menurut saya memang adakalanya bahasa Inggris tidak bisa digantikan. Dalam bidang keilmuan yang sedang saya pelajari misalnya. Jangan minta saya terjemahkan kata “microcontroller” ya. Micro artinya kecil, controller artinya pengatur. Jika microcontroller saya terjemahkan sebagai pengatur kecil, jadi salah dong. Jika diterjemahkan balik bisa – bisa jadi “little manager”. Jika saya terjemahkan sebagai pengatur yang kecil – kecil, ah, susah pula. Biarlah dia tetap kita sebut sebagai “microcontroller” ya.

Jadi rasanya saya tetap harus menginstall beragam library pendukung yang open source agar aplikasi yang saya kerjakan bisa segera selesai dengan bantuan API yang disediakan. Kan sulit jika saya harus menanam (sebagai terjemahan kata install?) beragam perpustakaan (sebagai terjemahan library?) yang sumber terbuka (sebagai terjemahan kata open source). Hehe.

Sudah dulu ah, postingan kali ini sudah cukup panjang rasanya. :D

August 23, 2007

Terlalu Banyak Luffy dan Roronoa Zorro

Beberapa bulan terakhir ini saya selalu menyempatkan membaca majalah Rolling Stone setiap kali majalah tersebut terbit. Berhubung saya tidak punya anggaran lebih untuk membeli (meskipun majalahnya terbit bulanan), jadilah saya selalu mampir ke kosan seorang teman setiap bulannya untuk sekedar numpang baca dan biasanya berlanjut jadi numpang main, ikut main bowling hingga akhirnya numpang menginap juga.
 
Menurut saya majalah ini luar biasa. Bahasanya, bahasannya, referensi yang digunakannya, selera humor dalam menulis artikelnya, semua saya suka. Rasanya topik yang diangkat dalam majalah ini cukup ‘make sense‘ untuk dibaca ketimbang majalah/tabloid gosip atau majalah/tabloid yang katanya sih mengupas soal musik tapi ujung - ujungnya ya gosip lagi gosip lagi.
 
Ada sebuah artikel dalam edisi Agustus majalah ini yang cukup ‘mengusik’ pikiran saya.  Um, tentang… piracy! Dalam artikel tersebut, dipaparkan bahwa angka penjulan album "Top 10" tahun ini dibandingkan dengan "Top 10" periode sepuluh tahun lalu jauh lebih kecil. Seingat saya, dalam artikel tersebut jumlah penjualan album best seller pada tahun 2006 masih lebih kecil dibandingkan penjualan album peringkat keenam pada tahun 1996. Sayang saya tidak membawa majalah tersebut sekarang, namun saya yakinkan Anda bahwa selisih angkanya sangat signifikan.
 
Disinyalir, penyebab utamanya adalah semakin tersedianya versi ‘bajakan’ dari lagu - lagu tersebut melalui media bernama Internet! Yeah, long live Internet! Hmm…., bisa saya pahami. Rasanya memang ketika SD dulu (sekitar 10 tahun lalu), saya punya banyak koleksi kaset. Sekarang saya punya banyak koleksi mp3! Hehe. Jangankan repot, untuk mendapatkan semua lagu bajakan tersebut saya cukup membuka beberapa situs ftp di kampus saja! No cost at all.  
 
Lha, terus kenapa jadi terusik? Um…, yang terpikir oleh saya adalah seperti ini: bagi seorang musisi, masih ada penggemarnya yang hanya membeli karya asli sebagai wujud apresiasi dan pengidolaan mereka kepada musisi tersebut. Demikian bagi seorang sineas, masih banyak penikmat film yang memilih untuk repot - repot menonton di bioskop ketimbang menunggu versi bajakannya keluar di Pasar Kembang atau di Rileks. Saya sendiri misalnya, saya tidak akan lagi mengunduh album artis musisi Indonesia secara ilegal. Untuk beberapa judul film, saya sengaja menahan ‘hasrat’ untuk mengunduhnya dari Rileks dan menghemat beberapa hari makan siang demi bisa menontonnya di XXI terdekat. Dengan kata lain, dalam pandangan saya, musisi dan sineas rasanya sih masih bisa survive! Setidaknya karena faktor idol mereka.
 
Yang jadi kekhawatiran adalah… bagaimana nasib kami para (calon) pengembang aplikasi perangkat lunak? Perasaan sih belum pernah denger ada orang mengidolakan seorang programmer! You wish! Apalagi di negara dengan tingkat piracy luar biasa seperti di Indonesia ini. Rasanya saya bisa mengerti mengapa tidak banyak aplikasi populer yang dihasilkan oleh para developer dari dalam negeri: males, ntar dibajak! Hasil kerja keras selama berbulan - bulan berakhir menjadi sekedar keping seharga 10 ribuan yang dijual bebas di depan kampus ITB. Hehe.
 
Padahal, Indonesia menurut saya tidak kekurangan developer handal koq. Setiap tahunnya entah berapa sarjana IT diwisuda. Perusahaan IT dalam negeri pun saya kira sudah sangat banyak. Tapi kenapa tidak pernah kita dengar ada produk populer seperti aplikasi desain grafis (semisal Corel atau keluarga Macromedia dan Adobe), atau antivirus (selain keluaran PCMedia), atau aplikasi saintifik (seperti Matlab, Mathcad), atau yang lainnya yang merupakan produk asli developer Indonesia. Padahal menurut saya sebagian besar perusahaan IT kita bisa saja koq mengeluarkan produk seperti itu. Namun kebanyakan ya berakhir sebagai perusahaan yang project oriented: mengerjakan aplikasi untuk klien tertentu, berdasarkan tender proyek tertentu, dan hasilnya kemudian tertutup antara si perusahaan dengan kliennya. Perusahaan tempat saya KP mengambil kebijaksanaan seperti ini, sebagai contoh.
 
Ya, saya juga tidak bilang jelek sih pengerjaan software yang project oriented begitu. Namun saya sungguh mendamba (ceile, bahasanya… "mendamba") bisa punya banyak hal yang ‘asli Indonesia’: mobil nasional yang bukan sekedar merakitnya saja di Indonesia; tim nasional yang bisa dibanggakan; klub pujaan asli Indonesia yang bisa berlaga di pentas dunia; pesawat nasional yang memang dipakai dan dioperasikan di banyak maskapai penerbangan; hingga software asli dalam negeri sebagai OS saya, sebagai aplikasi office saya, sebagai IDE favorit saya, sebagai pemutar musik kesukaan saya, dan lain lain lah.  Tapi kapan ya? Masalahnya dengan negara kita adalah, terlalu banyak Ruffi  dan Roronoa Zoro disini! Terlalu banyak pembajak! Bagaimana mau maju dunia IT kita??
 
Hehe. Makanya akhir - akhir ini saya menerapkan kebijakan: no pirated software on my laptop! Efeknya, sekarang saya pakai yang open source saja! Toh tiga bulan terakhir saya hidup dengan Ubuntu, dan saya baik - baik saja. Hehe. Hidup Ubuntu!  
 
Ga jelas nih, dari Rolling Stone nyambung ke Ubuntu. :D  

August 16, 2007

Terlalu Kecil untuk Nenek Pertiwi

Ini bukan cerita tentang nenek saya. Kedua nenek saya mah memang masih produk asli daerah yang masih terbiasa dengan nama seperti ‘Saripah’ dan ‘Rostina’. Jarang anak sekarang dinamakan nama – nama yang beraroma daerah ya, sama jarangnya dengan orang dulu punya nama ‘Pertiwi’.
 
Jadi jelas, nenek pertiwi tidak merujuk kepada wujud fisik seorang manusia. Usia kemerdekaan si ibu pertiwi kita sebentar lagi enam puluh dua. Sudah tua jika dikonversi ke umur manusia. Sudah jadi nenek lah, bukan lagi ibu. Tapi sebenarnya bagaimana kondisi si nenek ini? Sehat kah dia? Sehat, nek?
 
Tulisan ini jadi terlintas bukan karena saya sedang ikutan trend. Percayalah, tak lama lagi anda akan lihat televisi ramai dengan pernak pernik kemerdekaan, tiba – tiba para artis akan menjadi sosok nasionalis luar biasa, dan infotainment hadir dengan edisi khusus tentang bagaimana para selebriti memaknai kemerdekaan. Itulah trend. Tanggal 20 Agustus nanti semua orang toh lupa lagi dengan segalanya dan televisi kembali membahas kenapa artis A dan artis B berjekelahi serta kenapa semua itu berhubungan dengan ramalan Mama Loren, menayangkan sekuel Intan dengan 1000 episode baru, dan meyakinkan kita bahwa spesial efek murahan adalah penampakan. Televisi memang racun. :p
 
Ok, enough with that.
 
Mari kita melihat satu dua jam cuplikan kehidupan saya sebentar. Pagi hari setelah sarapan di Nasi Kuning Tanjakan saya berangkat ke kampus, melewati jalan Tamansari sambil sedikit menahan nafas saat melintas di TPS Tamansari. Sebelum menyeberang untuk memasuki gerbang kampus saya menyempatkan beberapa belas menit untuk melihat game bajakan apalagi yang sudah dirilis di tukang jualan depan kampus. Sesampai di himpunan, teman – teman sedang sibuk membahas bagaimana sulitnya mengurus KSM karena harus menunjukkan bukti bebas pinjaman perpustakaan dan untuk mempermudahnya kita cukup membayar ’sedikit lebih’ kepada petugas perpusatakaan. Wallahua’lam kemana larinya pembayaran kita yang ’sedikit lebih’ itu.
 
Satu dua jam cuplikan pengalaman keseharian saya saja sudah cukup menggambarkan betapa banyak masalah yang sudah mengakar di negeri kita, nenek pertiwi tercinta. Pengelolaan sampah yang tidak benar, piracy, birokrasi yang korup hingga ke level yang terendah sekalipun! Banyak sekali masalah ya? Rasanya saya sampai ragu benarkah apa – apa yang ditanamkan kepada saya selama ini dalam kaderisasi? Benarkah bahwa saya adalah bagian dari agent of change yang bisa mengubah negeri ini? Rasanya saya terlalu kecil untuk segudang permasalahan nenek pertiwi yang sudah mendarah daging. Bisa apa sih saya?
 
Akhirnya sebuah pencerahan muncul ketika saya sampai di sekre KM ITB. Saya hadir untuk mengikuti pembekalan bagi calon mentor PMB ITB 2007. Seorang teman, mantan kahim IMA-G bercerita dalam simulasi lingkar wacana. Kurang lebih begini penuturuannya, oiya tapi ini ga pure penuturan dia, ada beberapa tambahan pemikiran saya juga:
 
“Saya juga kadang berpikir, bener ga sih kita bisa bangkit? Indonesia bisa berubah? Indonesia bisa lebih baik? Kata orang kejelekan kita tuh udah mengakar, udah mendarah daging. KKN berkembang sampai ke level birokrasi yang paling rendah: dari pejabat pemerintah sampai penjaga perpus! Apa iya kita ga bisa berubah?”
 
Tapi kemudian ia menjawab sendiri penuturannya, “Saya yakin kita bisa koq. Emang kebiasaan jelek kita yang katanya sudah mendarah daging itu udah berapa lama sih? Baru juga 62 tahun sejak kita merdeka! Coba deh bayangin nenek moyang kita dulu selama 350 tahun berada di bawah penjajahan. 350 tahun itu artinya apa? Artinya minimal 6 generasi lahir dan meninggal dengan frame berpikir bahwa kita adalah bangsa yang dijajah, tapi toh pada akhirnya kita bisa merdeka juga.”
 
Iya, benar juga. Toh kita baru 62 tahun memiliki segala macam kebobrokan ini. Belum terlalu lama untuk kita bisa berubah. Saya yakin kita pasti bisa berubah dari frame berpikir bahwa kalo ga nyogok ga jalan; kalo sampah menumpuk itu biasa, ya itulah biasanya di Indonesia; kalo yang namanya pembajakan wajar, ya itulah Indonesia; kalo fasilitas umum rusak itu biasa, ya itulah Indonesia. Ini adalah pola pikir yang tidak benar dan saya yakin bahwa kita pasti bisa keluar dari frame berpikir seperti ini. Hmm…, nuhun atuh kang dah ngasih pencerahan!
 
Ternyata si nenek belum terlalu tua koq. Masih muda dan singset mungkin. Haha. Masih banyak waktu koq untuk memperbaiki diri. Ibarat perempuan muda, masih banyak waktu untuk mempercantik diri, ga cuma casing luar tapi juga inner beauty-nya. Ya, sekarang saya ga panggil nenek lagi, ibu pertiwi masih muda dan masih punya waktu banyak untuk bisa berubah!
 
Selamat ulang tahun yang ke-62!

June 30, 2007

Bersyukur itu ternyata tidak gampang

Tulisan ini ‘diilhami’ oleh beberapa kejadian dan beberapa tulisan rekan saya di blog mereka.

Saya sedang berada pada kondisi dimana mendapatkan indeks 8 dari 10 adalah sebuah anugerah luar biasa. Oleh karena itu, saya sempat merasa kesel saat seseorang menyatakan bahwa indeks tersebut adalah ‘mimpi buruk’, ‘kutukan’, dan lainnya. Huff! Ga tau bersyukur! Demikian pikir saya waktu itu.

Tapi tunggu dulu. Saya ternyata juga pernah menjadi orang yang menganggap indeks tadi adalah sebuah failure: sebuah kegagalan. Lantas, kenapa sekarang tiba – tiba saya menganggap indeks tersebut sebagai anugerah? Kenapa tiba – tiba saya menganggap orang lain yang menyatakan indeks tersebut sebagai failure adalah orang yang tidak bersyukur?

Setelah melewati beberapa rapat kaderisasi barulah jawabannya saya temukan. Ah, ternyata! Rupanya, biasanya kita memang tidak segampang itu mensyukuri hal – hal yang sederhana. Kita tidak biasanya mensyukuri hal – hal yang kita dapat secara mudah. Jika Anda terbiasa mendapat angka 9 atau angka 10 dengan mudah, angka 8 bagi Anda adalah suatu kegagalan. Jika Anda terbiasa setiap hari makan enak, tiga kali sehari, maka saat Anda harus makan dua kali sehari maka Anda pasti akan mengeluh. Kita biasanya merasakan nikmat justru saat nikmat itu telah terambil dari kita. Kita tidak terbiasa mensyukuri hal – hal yang mudah kita dapatkan.

Pada rapat kaderisasi, biasanya momen pelantikan atau penutupan senantiasa dibuat untuk menjadi sesulit mungkin. Bukan sekali dua kali saya mendengar alasan, “Ya supaya biar kerasa susah masuk himpunan! Sesuatu yang didapat dengan susah akan susah juga dilepaskan!” Ah, iya, iya. Kita memang masih terlalu buta untuk mensyukuri hal – hal yang tidak perlu susah – susah kita dapatkan. Udara pagi yang kita hirup, cahaya matahari, kesempatan untuk kembali bangun pagi ini, semuanya adalah hal – hal yang tidak kita rasakan sebagai nikmat lagi. Kesempatan bersekolah, kiriman seadanya dari orang tua, hingga nilai yang kadang sebenarnya memang sesuai dengan usaha kita, seringkali kita keluh kesahkan seolah kita memang deserve to get more.

Bersyukur memang sulit. Apalagi untuk mensyukuri hal – hal yang sederhana. Hal – hal yang sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Makanya saya sangat suka pada beberapa lagu yang menurut saya ‘penuh rasa syukur’:

“Every day is a new day,
I’m thankful for every breath I take
I won’t take it for granted..” (dari lagu Alive oleh POD)

keren kan? Setiap hirup nafas yang ditarik adalah hal yang patut kita syukuri dan tidak sepantasnya kita buang percuma. Atau syair lagu lainnya,

“What you don’t have you don’t need it now” (dari lagu Beautiful Day oleh U2)

keren ya? Syukuri saja apa yang kamu punya karena apa – apa yang tidak kamu miliki pasti belum kamu butuhkan. Toh, Tuhan tahu kamu perlu apa. He gives what you need, not what you want. Syair yang sangat tepat untuk jika suatu saat kita telah bekerja keras meraih sesuatu dan mendapat hasil yang tidak seperti kita harapkan. (Dan sebaiknya syair ini jangan dibaca oleh para pemalas, nanti jadi alasan, “ya kalo gw ga milikin kan berarti gw ga butuh, ngapain gw capek2 usahain?”)

Sekarang saya sedang membayangkan sebuah acara pelantikan yang tidak harus ’sangar’, tidak harus ‘keras’, tidak harus ’susah’. Saya sedang membayangkan sebuah acara pelantikan yang ‘hangat’ namun ‘khidmat’. Bisa ga ya? Apa kita masih harus ikut paradigma lama, “kalo dapetnya susah, ngelepasnya juga bakal susah” ? Saya justru sedang berpikiran bahwa jika untuk masuk ke suatu tempat sedemikian susahnya maka saat sudah masuk maka orang akan berpikir bahwa itulah garis finish-nya. Padahal seharusnya pelantikan adalah garis start untuk terus berkarya dan mengembangkan diri di himpunan. Entah pandangan mana yang benar.

Oiya, sedikit OOT, oleh karena pemikiran ini juga akhir - akhir ini saya berpikiran bahwa teks lagu yang paling romantis adalah lagunya Aerosmith:

“Every time I spend with you is the moment I treasure”

Phew! Butuh interaksi bertahun – tahun dan kecintaan yang tulus untuk akhirnya bisa mengatakan kepada seseorang bahwa setiap waktu yang kita habiskan bersama dia adalah saat – saat yang luar biasa berharga, adalah saat – saat yang kita syukuri. Hebat lah kalau ada yang bisa bilang begini ke orang lain.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer