LOST: The Second Season, Tak Ada Benda 100% Gelap
Sesi selanjutnya dari LOST yang sangat membekas pada diri saya adalah sesi dengan Bang Fajrul Rahman. Meskipun gaya berbicara Bang Fajrul kadang agak “gimana gitu” namun saya berusaha mengesampingkannya dan tetap fokus pada apa yang beliau sampaikan. Dalam hal mendengar orang, saya rasa pepatah “Unzhur ila ma qola, wa la tanzhur ila man qola”: dengar apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang berbicara (terjemahan yang agak janggal sebenarnya karena arti kata “unzhur” adalah “lihat”).
Bang Fajrul menampilkan data – data betapa Indonesia memiliki ketimpangan yang luar biasa. 40 orang terkaya di Indonesia rata – rata memiliki kekayaan empat koma sekian triliun sedangkan sebagian lagi mati busung lapar (Bang Fajrul membawa scan koran Kompas hari itu, berisi potongan berita bayi busung lapar meninggal di… Banten, tak begitu jauh dari ibukota). Gambaran yang luar biasa absurd bagi saya.
Bang Fajrul pun terus membobardir kami dengan beragam cerita yang membuat saya miris. Betapa ia dulu untuk sekedar duduk berdiskusi saja harus dikejar – kejar tentara dan polisi. Betapa ia dan mahasiswa ITB dahulu harus menuju penjara demi suatu kata yang mungkin hanya menjadi bahan tertawaan oleh “anak jaman sekarang”: idealisme. Dan… Bang Fajrul semakin menguatkan hati saya bahwa Soeharto tidak pantas disebut pahlawan. Hehe.
Ada dua hal yang sangat berkesan sekali bagi saya. Pertama komentar Bang Fajrul tentang apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang aktivis. Beliau bilang, “integritas moral dan prestasi”. Huk! Saya tertampar. Mencontek itu korupsi kecil – kecilan, pun copy paste, pun kelakuan curang lainnya. Saya sungguh salut saat beliau bilang bahwa beliau tidak pernah mencontek. Saya mungkin tidak mencontek pada ujian, tapi integritas moral saya dalam hal lain patut dipertanyakan memang. Apalagi kalau berbicara prestasi…, duh Gusti… ampuni hamba! Makanya, jadilah resolusi ini saya mantapkan. Bismillah… .
Hal berkesan kedua adalah ketika seorang peserta berkomentar, ”Bang, kayanya bangsa kita ni udah bobrok segala aspek. Udah hopeless, udah ga ada harapan. Bisa apa kita Bang?” Bang Fajrul menjawab dengan perumpamaan yang luar biasa: “Tidak ada ada benda yang seratus persen gelap. Belajar fisika toh?” Betul. Pun, ga ada kegelapan mutlak, selalu ada cahaya. Nyalakan saja lilinmu dulu, tak perlu kau kutuki kegelapan itu. Déjà vu… ah iya, Pak Gede Rake pun pernah mengajarkan hal yang sama pada sesi terakhir kuliah Maninov. Baik… just light a candle rather than curse the darkness.
Makasih, Bang, mengembalikan semangat saya… .
“Blow out the candle,
I will burn again tomorrow”
dari lagu “Inside and Out” oleh Feist
