LOST : The First Season, How to Teach A Frog Flying in 24 Hours
Tepat seminggu yang lalu, saya mengikuti sebuah acara yang sangat bagus: LOST a.k.a Leadership Osesuatu Ssesuatu Training. Fufufu! Saya lupa kepanjangan sebenarnya. Tak apalah. Sebenarnya pun si LOST ini memang nama yang dibuat – buat demi membungkus TFT calon panitia kaderisasi STEI. Apalah arti sebuah nama, toh yang kita sebut mawar akan tetap berbau sama harum meskipun kita sebut “kodok”. Shakespare mungkin menangis di alam baka sana jika tahu bahwa quote terkenalnya diterjemahkan sedemikian ngawur. But, please, call me with my name… ortu saya aqiqah dua kambing untuk nama itu. Ok? Let’s get distracted no more, and we go to the real subject.
Biasanya saya memiliki persepsi yang cukup buruk terhadap para trainer, terutama mereka yang tidak memiliki portofolio selain menjadi trainer. Oleh karena itu, pembicara yang pertama kali hadir sangat memikat hati saya karena beliau bukan trainer. Namanya Rama Royani, karena beliau sudah tua dan beliau meminta dipanggil demikian (katanya untuk branding
), mari kita sebut saja beliau dengan Abah Rama.
Abah Rama membawa sebuah wacana yang cukup “kontroversial” bagi saya. Sebagai seorang yang mengagungkan pentingnya visi, saya cukup terkejut dengan apa yang disampaikan Abah Rama, “Misi dulu, baru Visi”. Woa!
Menurut beliau, Misi adalah alasan keberadaan sedangkan Visi adalah tujuan di masa depan. Dengan demikian, Misi ibarat sebuah amanah yang dititipkan oleh Sang Pencipta kepada kita. Menurut beliau, semua orang dibekali misi dan oleh karena itulah semua orang diberi bakat yang berbeda: tiap bakat adalah tools untuk menjalankan misi yang dibebankan Allah pada kita.
Beliau kemudian member sebuah analogi yang menarik. Sebuah gambar kapak dipaparkan di layar dan kemudian beliau bertanya, “jika Anda diberi kapak ini, bagian mana yang Anda akan asah?” Tentu semua yang hadir tertawa karena merasa itu pertanyaan bodoh. Beliau melanjutkan, “Anda mungkin sekarang tertawa, tapi nanti kita saksikan bahwa ternyata.. kita lebih sering mengasah bagian tumpul dari kapak yang kita miliki”. Dan apa yang disampaikannya kemudian membuat saya tercengang!
He is right! Kita lebih sering berusaha menutupi kekurangan kita daripada memanfaatkan kelebihan kita. Check this out: yang merasa hitam membeli pemutih, yang merasa kurus membeli weight gain (percayalah, bukan pengalaman pribadi saya… because I’m slim, not thin :p), yang merasa gemuk mati – matian berusaha menguruskan diri. Itu baru soal fisik. Belum lagi potensi lainnya… . Well, it got me.
Toh semua orang kan diberi bakat yang berbeda. Sebagian jago matematik, berhitung dan logika sedangkan sebagian lainnya pandai bermusik atau jago olahraga. Sebagian pandai beretorika, sebagian pandai menulis, sebagian pandai lainnya entah apa. But we seem to care so much about what we can’t and what we don’t have. Padahal nampaknya masuk akal bahwa tidak terlalu berguna mengasah bagian tumpul dari diri kita, laksana mengajar kodok cara terbang. Well… please tell me if one day someone really ever write a book “How to Teach A Frog Flying in 24 Hours”. Ibarat bermain DoTa, tak ada guna memberikan Juggernaut item Aganim. Ibarat bermain FM, tidak ada guna pula melatih DC dengan porsi shooting yang besar. Ibarat… apalagi ya? Cari saja sendiri. :p
Memang… satu masalahnya, apa ya bakat kita? Wah, sulit itu. Sulit sekali. Karena kadang lingkungan di sekitar justru tidak menumbuhkan bakat kita. “Ngapain kamu maen bola? Mau jadi pemain bola? Heh? Mau hidup miskin ya? Mau dipukulin sama suporter ya? Heh!” Padahal jangan – jangan kita baru saja membunuh bakat seorang Pele in the make.
Tapi, untuk satu hal, saya tidak sepakat dengan Abah Rama: leadership. Karena menurut saya, leadership bukan bakat melainkan misi. Hehe. Karena kita semua diciptakan sebagai khalifah… being a leader is a must, being a good leader is a choice. Ada teori menarik yang saya dapat dari sebuah buku: leadership sometimes could mean caring, sometimes protecting, sometimes directing, sometimes showing, sometimes inspiring, sometimes you define it yourself. Makanya, saya masih yakin bahwa semua orang bisa menemukan gaya memimpinnya sendiri… berdasarkan bakatnya masing – masing.
Tapi, anyway, makasih ya Abah Rama atas sesi training yang menarik. Makasi juga buat panitia LOST yang meskipun little in number tapi very big in workrate, spirit and determination. Fufufufu.
“You could spend a whole life looking for something
Something that might be right in front of your eyes
But you’ll be looking for something else
We all want something else
We all want something we don’t have
Maybe a roll in the dirt, or a seat first class
We all want something we can’t have”
dari lagu “Something Else” oleh Good Charlotte dalam “Good Morning Revival”
