Laskar Kesiangan
Akui saja…, setahun belakangan ini sulit sekali bagi saya untuk benar – benar membaca buku habis dari awal hingga akhir. Ketika masih remaja dulu (cie….. sekarang udah gede ye?), saya sanggup menghabiskan buku “Roman Sejarah Muhammad Sang Pembebas” dalam tiga hari saja. Itupun sudah dengan mengulur – ngulur waktu dengan selalu membaca bab pendahuluan dan pengantar penerbit. Setahun terakhir ini, rasanya belum satu judul buku pun yang habis saya baca! Ah… betapa!
Demikian, hingga detik ini saya belum pula rampung membaca Laskar Pelangi yang entah sejak berapa bulan lalu saya beli (berlaku juga pada sekian banyak buku lainnya L). Sekarang kebetulan saya sedang kembali berusaha merampungkan membaca Laskar Pelangi karena konon panitia Pekan Baca Tulis sedang mencari moderator untuk sesi talkshow dengan Andrea Hirata. I don’t want to miss that! Dan… satu hal yang sangat disyaratkan: pernah membaca salah satu tetralogi Laskar Pelangi karangan beliau. Oke, mari kita lanjutkan membaca Laskar Pelangi sekarang!
Satu hal dari buku ini yang sangat menyentuh saya: pendidikan itu priceless! Tokoh – tokoh dalam buku ini begitu miskin, namun begitu bersemangat dalam mengenyam pendidikan. Cerita tentang Lintang yang mengarungi jalan puluhan kilometer penuh buaya menuju sekolah sungguh mengharukan hati saya, perjalanan dari kos saya ke kampus hanya membutuhkan waktu 10 menit, itupun dengan berjalan santai. Tapi saya ternyata bodoh dan tidak tahu bersyukur dengan segala kemudahan akses saya terhadap pendidikan. Padahal mungkin orang seperti tokoh Lintang sangat mendamba untuk mendapatkan akses pendidikan semudah yang saya dapat. Ah! Menyesal, menyesal, menyesal!
Oleh karena itulah pada salah satu resolusi saya tahun ini saya lantas mewajibkan diri untuk mencapai prestasi akademis yang baik, biar ga kufur nikmat! Kuwalat nanti!
Mengutip kembali kutipan yang disampaikan oleh Mas Budiono dalam dialekta “Sekolah untuk Siapa”: kuliah adalah impian mewah bagi orang dusun pedesaan, tapi kuliah sekedar formalitas untuk anak mami yang kuliah untuk sekedar menjaga gengsi. Saya mungkin anak mami, punya segala kemudahan untuk mengenyam pendidikan tinggi, tapi saya tak ingin kuliah sekedarnya. Ingin berprestasi, ingin berkontribusi. Ah… where have I been these three years?

iqbal:
where have I been these three years?
mars, maybe
iya, sayang banget Indonesia harus menyia-nyiakan orang seperti Lintang…
jadi, salah siapa?
Comment by rani! — February 9, 2008 @ 1:50 pm
Seperti katamu di blog yang lain, masih belum terlambat, dan sebelum benar-benar terlambat, lakukan dari sekarang
Comment by Zakka Fauzan Muhammad — February 10, 2008 @ 3:18 am