February 9, 2008

Laskar Kesiangan

Filed under: Uncategorized

Akui saja…, setahun belakangan ini sulit sekali bagi saya untuk benar – benar membaca buku habis dari awal hingga akhir. Ketika masih remaja dulu (cie….. sekarang udah gede ye?), saya sanggup menghabiskan buku “Roman Sejarah Muhammad Sang Pembebas” dalam tiga hari saja. Itupun sudah dengan mengulur – ngulur waktu dengan selalu membaca bab pendahuluan dan pengantar penerbit. Setahun terakhir ini, rasanya belum satu judul buku pun yang habis saya baca! Ah… betapa!

Demikian, hingga detik ini saya belum pula rampung membaca Laskar Pelangi yang entah sejak berapa bulan lalu saya beli (berlaku juga pada sekian banyak buku lainnya L). Sekarang kebetulan saya sedang kembali berusaha merampungkan membaca Laskar Pelangi karena konon panitia Pekan Baca Tulis sedang mencari moderator untuk sesi talkshow dengan Andrea Hirata. I don’t want to miss that! Dan… satu hal yang sangat disyaratkan: pernah membaca salah satu tetralogi Laskar Pelangi karangan beliau. Oke, mari kita lanjutkan membaca Laskar Pelangi sekarang!

Satu hal dari buku ini yang sangat menyentuh saya: pendidikan itu priceless! Tokoh – tokoh dalam buku ini begitu miskin, namun begitu bersemangat dalam mengenyam pendidikan. Cerita tentang Lintang yang mengarungi jalan puluhan kilometer penuh buaya menuju sekolah sungguh mengharukan hati saya, perjalanan dari kos saya ke kampus hanya membutuhkan waktu 10 menit, itupun dengan berjalan santai. Tapi saya ternyata bodoh dan tidak tahu bersyukur dengan segala kemudahan akses saya terhadap pendidikan. Padahal mungkin orang seperti tokoh Lintang sangat mendamba untuk mendapatkan akses pendidikan semudah yang saya dapat. Ah! Menyesal, menyesal, menyesal!

Oleh karena itulah pada salah satu resolusi saya tahun ini saya lantas mewajibkan diri untuk mencapai prestasi akademis yang baik, biar ga kufur nikmat! Kuwalat nanti!

Mengutip kembali kutipan yang disampaikan oleh Mas Budiono dalam dialekta “Sekolah untuk Siapa”: kuliah adalah impian mewah bagi orang dusun pedesaan, tapi kuliah sekedar formalitas untuk anak mami yang kuliah untuk sekedar menjaga gengsi. Saya mungkin anak mami, punya segala kemudahan untuk mengenyam pendidikan tinggi, tapi saya tak ingin kuliah sekedarnya. Ingin berprestasi, ingin berkontribusi. Ah… where have I been these three years?

Seandainya Saya Menjadi Seorang Mentor

Filed under: Kampusku Rumahku

Hmm.. lama tak posting. Consistency is indeed a hard thing! Mengawali come back saya ke dunia blogging, kedua blog saya isi dengan resolusi. Kalau blog yang itu berisi resolusi pribadi, blog yang ini akan diisi dengan resolusi yang saya berikan pada panitia kaderisasi STEI sebagai prasyarat sebagai seorang mentor. Ini sekedar copy paste saja. Tapi rasanya tak ada salahnya di-post disini. Semoga tidak terlihat sebagai ekstrovert. Hehe.

Bagi saya, menjadi mentor merupakan sebuah tugas yang berat. Seorang mentor haruslah dapat menjadi teladan, menjadi inspirasi dan menjadi sosok pendidik bagi padawan – padawan yang dimentorinya. Memberi teladan saja sulit, apalagi menjadi teladan. Mencari inspirasi saja sulit, apalagi menjadi inspirasi. Menjadi peserta didik saja sulit, apalagi menjadi seorang pendidik. Oleh karena itu, saya sangat yakin bahwa tugas menjadi mentor ini merupakan sebuah tugas yang tidak ringan.

Maka, seandainya saya menjadi seorang mentor, maka saya hanya dapat menjajikan satu hal pada rekan – rekan panitia kaderisasi: saya akan berusaha menjadi sosok yang dapat menjadi teladan, member inspirasi, dan mendidik dengan baik. Resolusi yang terlihat gagah, namun jelas bukan perkara mudah. Berikut adalah langkah yang saya akan ambil demi mewujudkan resolusi tadi dalam bentuk yang konkret:

1. Belajar berintegritas

Bagi saya, integritas kini menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan bagi seorang pengkader. Apalagi sebagai seorang mentor yang haruslah bisa menjadi teladan. Oleh karena itu, saya ingin belajar berintegritas dalam menjalankan peran saya sebagai seorang mentor. Apa – apa yang saya sampaikan pada rekan – rekan peserta mentoring akan berusaha saya amalkan. Apa – apa yang belum baik dari diri saya berkaitan dengan apa yang saya sampaikan dalam kaderisasi, akan saya perbaiki. Singkat kata saya akan berusaha menyeleraskan antara apa yang saya ucapkan dan sampaikan pada peserta mentoring dengan apa yang saya perbuat dalam kehidupan sehari – hari saya.

 

2. Belajar berprestasi

Berprestasi adalah sebuah hal yang sudah lama tidak saya miliki. Pencapaian akademis saya menengah kebawah, demikian pencapaian diluarnya. Oleh karena itu, demi menjadikan diri sebagai mentor yang inspiratif, saya akan berusaha berprestasi baik di semester ini, baik secara akademis maupun non akademis.

 

3. Belajar tentang pendidikan, belajar mendidik, dan belajar bersama dengan para peserta didik

Pendidikan adalah tema yang baru bagi saya, karena saya selama ini lebih banyak menjadi peserta didik. Oleh karena itu, saya akan banyak belajar tentang pendidikan dan belajar menjadi seorang pendidik yang baik bagi peserta mentoring. Selain itu, saya sangat menekankan bahwa saya ingin belajar bersama para peserta didik karena saya bukanlah sumber ilmu. Oleh karena itu, saya tidak akan menganggap bahwa suara sayalah kebenaran. Saya akan berusaha sekerasnya agar para peserta didik dapat menggali potensi dirinya dan membawa kelompok untuk bersama – sama mempelajari berbagai hal.

 

Semakin banyak janji, semakin banyak hutang. Semakin banyak pula yang akan ditagihkan kepada saya. Maka, saya cukupkan sekian saja. Jika rekan – rekan panitia menemukan ketidaksesuaian antara apa yang saya janjikan dengan apa yang saya laksanakan, silakan ditegur dan diingatkan. Semoga kaderisasi yang kita lakukan membawa hal positif bagi semua pelakunya.

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer