February 18, 2008

LOST: The Trilogy Completed, Berapa Jumlah Pintu Istora Senayan?

Bagian terkahir dari LOST yang ingin saya share adalah sesi dengan Mas Eko Prasetyo. LOST bukanlah kali pertama saya bertemu dengan beliau. Oleh karena itu, saya sudah memiliki ekspektasi bahwa sesi ini akan penuh tawa meskipun berlangsung pada jam 1 – 3: prime time untuk mengantuk dan tidur siang. Pastinya berat membawakan materi “filosofi pendidikan” di jam tidur ini.

Mas Eko bercerita tentang ironi – ironi penuh humor. Beliau bercerita tentang presiden Chile, Hugo Chaves. Ketika terpilih, Chaves berpidato yang menyatakan bahwa ia memotong gaji dirinya dan seluruh kabinet 50% dan pemotongan tersebut akan digunakan bagi kemakmuran rakyat. Saya yang bukan warga Chile saja merinding mendengarnya. Pemimpin saya juga membuat saya merinding sih, dengan mengeluarkan sebuah album lagu! Ya, betul, itulah yang kita butuhkan…, itulah yang Indonesia butuhkan untuk menjawab kelangkaan minyak tanah, untuk menanggulangi banjir dan bencana di seluruh nusantara, untuk mempertahankan aset dalam negeri dari tangan asing, kita butuh… pemimpin yang meluncurkan album! Pemilu berikut saya rasa Ahmad Dhani harus mencalonkan diri kalau begtitu. Oh tak perlu, dia kan sudah punya Republik Cinta.

“Berpuluh tahun kami nantikan
pemimpin yang mendengarkan,
hati yang mengerti
di negeri ini

Tak kunjung datang
ataukah memang tak dilahirkan oleh Tuhan”
dari ah.. saya lupa judul lagunya, karangan Franky Salihatua

 

Mas Eko bercerita tentang kenapa Aburizal Bakrie seharusnya mendapatkan nobel sains karena temuan spektakuler: perusahaan gas alam yang bisa mengeluarkan lumpur. Bercerita tentang pertanyaan pada buku PPKn “kearah mana kepala burung garuda menghadap”, tentang pertanyaan dalam buku penjaskes “berapa jumlah pintu Istora Senayan” (what does it have to do with penjaskes!), dan beragam lelucon tentang kondisi pendidikan dan sosial politik bangsa ini.

Beliau bercerita bagaimana negara – negara Amerika Latin dan Iran saja mampu memberikan pendidikan murah, jika tidak gratis, pada warga negaranya. Beliau bercerita bahwa ”perpustakaan” di Iran adalah tempat yang paling ramai di kampus dan bagaimana di Indonesia peran tersebut ternyata diisi oleh “kantin”. Setiap kali kita membicarakan pendidikan murah di Indonesia, selalu saja para pakar berkata, “itu kan Cuma bisa dilakukan sama negara maju macam Jerman saja”. Tapi negara – negara berkembang yang diceritakan Mas Eko bisa.

Makanya, saya sangat salut dengan apa yang dilakukan Mas Budiono dan kawan – kawannya di kementrian PM, kabinet KM ITB: rumah belajar gratis. Small step for giant leap. Salut. Saya? Sekarang mau belajar untuk bersyukur atas pendidikan tinggi yang mahal ini dulu deh: menggunakan setiap detiknya untuk bermanfaat. Setelah turun jadi kahim, insya Allah mau gabung dengan rumah belajar. Katanya kan, “khairu kum anfaukum linnas, sebaik baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi ummat manusia lain”.

LOST: The Second Season, Tak Ada Benda 100% Gelap

Filed under: Uncategorized

Sesi selanjutnya dari LOST yang sangat membekas pada diri saya adalah sesi dengan Bang Fajrul Rahman. Meskipun gaya berbicara Bang Fajrul kadang agak “gimana gitu” namun saya berusaha mengesampingkannya dan tetap fokus pada apa yang beliau sampaikan. Dalam hal mendengar orang, saya rasa pepatah “Unzhur ila ma qola, wa la tanzhur ila man qola”: dengar apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang berbicara (terjemahan yang agak janggal sebenarnya karena arti kata “unzhur” adalah “lihat”).

Bang Fajrul menampilkan data – data betapa Indonesia memiliki ketimpangan yang luar biasa. 40 orang terkaya di Indonesia rata – rata memiliki kekayaan empat koma sekian triliun sedangkan sebagian lagi mati busung lapar (Bang Fajrul membawa scan koran Kompas hari itu, berisi potongan berita bayi busung lapar meninggal di… Banten, tak begitu jauh dari ibukota). Gambaran yang luar biasa absurd bagi saya.

Bang Fajrul pun terus membobardir kami dengan beragam cerita yang membuat saya miris. Betapa ia dulu untuk sekedar duduk berdiskusi saja harus dikejar – kejar tentara dan polisi. Betapa ia dan mahasiswa ITB dahulu harus menuju penjara demi suatu kata yang mungkin hanya menjadi bahan tertawaan oleh “anak jaman sekarang”: idealisme. Dan… Bang Fajrul semakin menguatkan hati saya bahwa Soeharto tidak pantas disebut pahlawan. Hehe.

Ada dua hal yang sangat berkesan sekali bagi saya. Pertama komentar Bang Fajrul tentang apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang aktivis. Beliau bilang, “integritas moral dan prestasi”. Huk! Saya tertampar. Mencontek itu korupsi kecil – kecilan, pun copy paste, pun kelakuan curang lainnya. Saya sungguh salut saat beliau bilang bahwa beliau tidak pernah mencontek. Saya mungkin tidak mencontek pada ujian, tapi integritas moral saya dalam hal lain patut dipertanyakan memang. Apalagi kalau berbicara prestasi…, duh Gusti… ampuni hamba! Makanya, jadilah resolusi ini saya mantapkan. Bismillah… .

Hal berkesan kedua adalah ketika seorang peserta berkomentar, ”Bang, kayanya bangsa kita ni udah bobrok segala aspek. Udah hopeless, udah ga ada harapan. Bisa apa kita Bang?” Bang Fajrul menjawab dengan perumpamaan yang luar biasa: “Tidak ada ada benda yang seratus persen gelap. Belajar fisika toh?” Betul. Pun, ga ada kegelapan mutlak, selalu ada cahaya. Nyalakan saja lilinmu dulu, tak perlu kau kutuki kegelapan itu. Déjà vu… ah iya, Pak Gede Rake pun pernah mengajarkan hal yang sama pada sesi terakhir kuliah Maninov. Baik… just light a candle rather than curse the darkness.

Makasih, Bang, mengembalikan semangat saya… .

“Blow out the candle,
I will burn again tomorrow”
dari lagu “Inside and Out” oleh Feist

LOST : The First Season, How to Teach A Frog Flying in 24 Hours

Filed under: Uncategorized

Tepat seminggu yang lalu, saya mengikuti sebuah acara yang sangat bagus: LOST a.k.a Leadership Osesuatu Ssesuatu Training. Fufufu! Saya lupa kepanjangan sebenarnya. Tak apalah. Sebenarnya pun si LOST ini memang nama yang dibuat – buat demi membungkus TFT calon panitia kaderisasi STEI. Apalah arti sebuah nama, toh yang kita sebut mawar akan tetap berbau sama harum meskipun kita sebut “kodok”. Shakespare mungkin menangis di alam baka sana jika tahu bahwa quote terkenalnya diterjemahkan sedemikian ngawur. But, please, call me with my name… ortu saya aqiqah dua kambing untuk nama itu. Ok? Let’s get distracted no more, and we go to the real subject.

 Biasanya saya memiliki persepsi yang cukup buruk terhadap para trainer, terutama mereka yang tidak memiliki portofolio selain menjadi trainer. Oleh karena itu, pembicara yang pertama kali hadir sangat memikat hati saya karena beliau bukan trainer. Namanya Rama Royani, karena beliau sudah tua dan beliau meminta dipanggil demikian (katanya untuk branding :D ), mari kita sebut saja beliau dengan Abah Rama.

Abah Rama membawa sebuah wacana yang cukup “kontroversial” bagi saya. Sebagai seorang yang mengagungkan pentingnya visi, saya cukup terkejut dengan apa yang disampaikan Abah Rama, “Misi dulu, baru Visi”. Woa! 

Menurut beliau, Misi adalah alasan keberadaan sedangkan Visi adalah tujuan di masa depan. Dengan demikian, Misi ibarat sebuah amanah yang dititipkan oleh Sang Pencipta kepada kita. Menurut beliau, semua orang dibekali misi dan oleh karena itulah semua orang diberi bakat yang berbeda: tiap bakat adalah tools untuk menjalankan misi yang dibebankan Allah pada kita.

Beliau kemudian member sebuah analogi yang menarik. Sebuah gambar kapak dipaparkan di layar dan kemudian beliau bertanya, “jika Anda diberi kapak ini, bagian mana yang Anda akan asah?” Tentu semua yang hadir tertawa karena merasa itu pertanyaan bodoh. Beliau melanjutkan, “Anda mungkin sekarang tertawa, tapi nanti kita saksikan bahwa ternyata.. kita lebih sering mengasah bagian tumpul dari kapak yang kita miliki”. Dan apa yang disampaikannya kemudian membuat saya tercengang!

He is right! Kita lebih sering berusaha menutupi kekurangan kita daripada memanfaatkan kelebihan kita. Check this out: yang merasa hitam membeli pemutih, yang merasa kurus membeli weight gain (percayalah, bukan pengalaman pribadi saya… because I’m slim, not thin :p), yang merasa gemuk mati – matian berusaha menguruskan diri. Itu baru soal fisik. Belum lagi potensi lainnya… . Well, it got me.

Toh semua orang kan diberi bakat yang berbeda. Sebagian jago matematik, berhitung dan logika sedangkan sebagian lainnya pandai bermusik atau jago olahraga. Sebagian pandai beretorika, sebagian pandai menulis, sebagian pandai lainnya entah apa. But we seem to care so much about what we can’t and what we don’t have. Padahal nampaknya masuk akal bahwa tidak terlalu berguna mengasah bagian tumpul dari diri kita, laksana mengajar kodok cara terbang. Well… please tell me if one day someone really ever write a book “How to Teach A Frog Flying in 24 Hours”. Ibarat bermain DoTa, tak ada guna memberikan Juggernaut item Aganim. Ibarat bermain FM, tidak ada guna pula melatih DC dengan porsi shooting yang besar. Ibarat… apalagi ya? Cari saja sendiri. :p

Memang… satu masalahnya, apa ya bakat kita? Wah, sulit itu. Sulit sekali. Karena kadang lingkungan di sekitar justru tidak menumbuhkan bakat kita. “Ngapain kamu maen bola? Mau jadi pemain bola? Heh? Mau hidup miskin ya? Mau dipukulin sama suporter ya? Heh!” Padahal jangan – jangan kita baru saja membunuh bakat seorang Pele in the make.

Tapi, untuk satu hal, saya tidak sepakat dengan Abah Rama: leadership. Karena menurut saya, leadership bukan bakat melainkan misi. Hehe. Karena kita semua diciptakan sebagai khalifah… being a leader is a must, being a good leader is a choice. Ada teori menarik yang saya dapat dari sebuah buku: leadership sometimes could mean caring, sometimes protecting, sometimes directing, sometimes showing, sometimes inspiring, sometimes you define it yourself. Makanya, saya masih yakin bahwa semua orang bisa menemukan gaya memimpinnya sendiri… berdasarkan bakatnya masing – masing.

Tapi, anyway, makasih ya Abah Rama atas sesi training yang menarik. Makasi juga buat panitia LOST yang meskipun little in number tapi very big in workrate, spirit and determination. Fufufufu.

 

“You could spend a whole life looking for something
Something that might be right in front of your eyes
But you’ll be looking for something else

We all want something else
We all want something we don’t have
Maybe a roll in the dirt, or a seat first class
We all want something we can’t have”
dari lagu “Something Else” oleh Good Charlotte dalam “Good Morning Revival”

February 9, 2008

Laskar Kesiangan

Filed under: Uncategorized

Akui saja…, setahun belakangan ini sulit sekali bagi saya untuk benar – benar membaca buku habis dari awal hingga akhir. Ketika masih remaja dulu (cie….. sekarang udah gede ye?), saya sanggup menghabiskan buku “Roman Sejarah Muhammad Sang Pembebas” dalam tiga hari saja. Itupun sudah dengan mengulur – ngulur waktu dengan selalu membaca bab pendahuluan dan pengantar penerbit. Setahun terakhir ini, rasanya belum satu judul buku pun yang habis saya baca! Ah… betapa!

Demikian, hingga detik ini saya belum pula rampung membaca Laskar Pelangi yang entah sejak berapa bulan lalu saya beli (berlaku juga pada sekian banyak buku lainnya L). Sekarang kebetulan saya sedang kembali berusaha merampungkan membaca Laskar Pelangi karena konon panitia Pekan Baca Tulis sedang mencari moderator untuk sesi talkshow dengan Andrea Hirata. I don’t want to miss that! Dan… satu hal yang sangat disyaratkan: pernah membaca salah satu tetralogi Laskar Pelangi karangan beliau. Oke, mari kita lanjutkan membaca Laskar Pelangi sekarang!

Satu hal dari buku ini yang sangat menyentuh saya: pendidikan itu priceless! Tokoh – tokoh dalam buku ini begitu miskin, namun begitu bersemangat dalam mengenyam pendidikan. Cerita tentang Lintang yang mengarungi jalan puluhan kilometer penuh buaya menuju sekolah sungguh mengharukan hati saya, perjalanan dari kos saya ke kampus hanya membutuhkan waktu 10 menit, itupun dengan berjalan santai. Tapi saya ternyata bodoh dan tidak tahu bersyukur dengan segala kemudahan akses saya terhadap pendidikan. Padahal mungkin orang seperti tokoh Lintang sangat mendamba untuk mendapatkan akses pendidikan semudah yang saya dapat. Ah! Menyesal, menyesal, menyesal!

Oleh karena itulah pada salah satu resolusi saya tahun ini saya lantas mewajibkan diri untuk mencapai prestasi akademis yang baik, biar ga kufur nikmat! Kuwalat nanti!

Mengutip kembali kutipan yang disampaikan oleh Mas Budiono dalam dialekta “Sekolah untuk Siapa”: kuliah adalah impian mewah bagi orang dusun pedesaan, tapi kuliah sekedar formalitas untuk anak mami yang kuliah untuk sekedar menjaga gengsi. Saya mungkin anak mami, punya segala kemudahan untuk mengenyam pendidikan tinggi, tapi saya tak ingin kuliah sekedarnya. Ingin berprestasi, ingin berkontribusi. Ah… where have I been these three years?

Seandainya Saya Menjadi Seorang Mentor

Filed under: Kampusku Rumahku

Hmm.. lama tak posting. Consistency is indeed a hard thing! Mengawali come back saya ke dunia blogging, kedua blog saya isi dengan resolusi. Kalau blog yang itu berisi resolusi pribadi, blog yang ini akan diisi dengan resolusi yang saya berikan pada panitia kaderisasi STEI sebagai prasyarat sebagai seorang mentor. Ini sekedar copy paste saja. Tapi rasanya tak ada salahnya di-post disini. Semoga tidak terlihat sebagai ekstrovert. Hehe.

Bagi saya, menjadi mentor merupakan sebuah tugas yang berat. Seorang mentor haruslah dapat menjadi teladan, menjadi inspirasi dan menjadi sosok pendidik bagi padawan – padawan yang dimentorinya. Memberi teladan saja sulit, apalagi menjadi teladan. Mencari inspirasi saja sulit, apalagi menjadi inspirasi. Menjadi peserta didik saja sulit, apalagi menjadi seorang pendidik. Oleh karena itu, saya sangat yakin bahwa tugas menjadi mentor ini merupakan sebuah tugas yang tidak ringan.

Maka, seandainya saya menjadi seorang mentor, maka saya hanya dapat menjajikan satu hal pada rekan – rekan panitia kaderisasi: saya akan berusaha menjadi sosok yang dapat menjadi teladan, member inspirasi, dan mendidik dengan baik. Resolusi yang terlihat gagah, namun jelas bukan perkara mudah. Berikut adalah langkah yang saya akan ambil demi mewujudkan resolusi tadi dalam bentuk yang konkret:

1. Belajar berintegritas

Bagi saya, integritas kini menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan bagi seorang pengkader. Apalagi sebagai seorang mentor yang haruslah bisa menjadi teladan. Oleh karena itu, saya ingin belajar berintegritas dalam menjalankan peran saya sebagai seorang mentor. Apa – apa yang saya sampaikan pada rekan – rekan peserta mentoring akan berusaha saya amalkan. Apa – apa yang belum baik dari diri saya berkaitan dengan apa yang saya sampaikan dalam kaderisasi, akan saya perbaiki. Singkat kata saya akan berusaha menyeleraskan antara apa yang saya ucapkan dan sampaikan pada peserta mentoring dengan apa yang saya perbuat dalam kehidupan sehari – hari saya.

 

2. Belajar berprestasi

Berprestasi adalah sebuah hal yang sudah lama tidak saya miliki. Pencapaian akademis saya menengah kebawah, demikian pencapaian diluarnya. Oleh karena itu, demi menjadikan diri sebagai mentor yang inspiratif, saya akan berusaha berprestasi baik di semester ini, baik secara akademis maupun non akademis.

 

3. Belajar tentang pendidikan, belajar mendidik, dan belajar bersama dengan para peserta didik

Pendidikan adalah tema yang baru bagi saya, karena saya selama ini lebih banyak menjadi peserta didik. Oleh karena itu, saya akan banyak belajar tentang pendidikan dan belajar menjadi seorang pendidik yang baik bagi peserta mentoring. Selain itu, saya sangat menekankan bahwa saya ingin belajar bersama para peserta didik karena saya bukanlah sumber ilmu. Oleh karena itu, saya tidak akan menganggap bahwa suara sayalah kebenaran. Saya akan berusaha sekerasnya agar para peserta didik dapat menggali potensi dirinya dan membawa kelompok untuk bersama – sama mempelajari berbagai hal.

 

Semakin banyak janji, semakin banyak hutang. Semakin banyak pula yang akan ditagihkan kepada saya. Maka, saya cukupkan sekian saja. Jika rekan – rekan panitia menemukan ketidaksesuaian antara apa yang saya janjikan dengan apa yang saya laksanakan, silakan ditegur dan diingatkan. Semoga kaderisasi yang kita lakukan membawa hal positif bagi semua pelakunya.

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer