August 23, 2007

Terlalu Banyak Luffy dan Roronoa Zorro

Beberapa bulan terakhir ini saya selalu menyempatkan membaca majalah Rolling Stone setiap kali majalah tersebut terbit. Berhubung saya tidak punya anggaran lebih untuk membeli (meskipun majalahnya terbit bulanan), jadilah saya selalu mampir ke kosan seorang teman setiap bulannya untuk sekedar numpang baca dan biasanya berlanjut jadi numpang main, ikut main bowling hingga akhirnya numpang menginap juga.
 
Menurut saya majalah ini luar biasa. Bahasanya, bahasannya, referensi yang digunakannya, selera humor dalam menulis artikelnya, semua saya suka. Rasanya topik yang diangkat dalam majalah ini cukup ‘make sense‘ untuk dibaca ketimbang majalah/tabloid gosip atau majalah/tabloid yang katanya sih mengupas soal musik tapi ujung - ujungnya ya gosip lagi gosip lagi.
 
Ada sebuah artikel dalam edisi Agustus majalah ini yang cukup ‘mengusik’ pikiran saya.  Um, tentang… piracy! Dalam artikel tersebut, dipaparkan bahwa angka penjulan album "Top 10" tahun ini dibandingkan dengan "Top 10" periode sepuluh tahun lalu jauh lebih kecil. Seingat saya, dalam artikel tersebut jumlah penjualan album best seller pada tahun 2006 masih lebih kecil dibandingkan penjualan album peringkat keenam pada tahun 1996. Sayang saya tidak membawa majalah tersebut sekarang, namun saya yakinkan Anda bahwa selisih angkanya sangat signifikan.
 
Disinyalir, penyebab utamanya adalah semakin tersedianya versi ‘bajakan’ dari lagu - lagu tersebut melalui media bernama Internet! Yeah, long live Internet! Hmm…., bisa saya pahami. Rasanya memang ketika SD dulu (sekitar 10 tahun lalu), saya punya banyak koleksi kaset. Sekarang saya punya banyak koleksi mp3! Hehe. Jangankan repot, untuk mendapatkan semua lagu bajakan tersebut saya cukup membuka beberapa situs ftp di kampus saja! No cost at all.  
 
Lha, terus kenapa jadi terusik? Um…, yang terpikir oleh saya adalah seperti ini: bagi seorang musisi, masih ada penggemarnya yang hanya membeli karya asli sebagai wujud apresiasi dan pengidolaan mereka kepada musisi tersebut. Demikian bagi seorang sineas, masih banyak penikmat film yang memilih untuk repot - repot menonton di bioskop ketimbang menunggu versi bajakannya keluar di Pasar Kembang atau di Rileks. Saya sendiri misalnya, saya tidak akan lagi mengunduh album artis musisi Indonesia secara ilegal. Untuk beberapa judul film, saya sengaja menahan ‘hasrat’ untuk mengunduhnya dari Rileks dan menghemat beberapa hari makan siang demi bisa menontonnya di XXI terdekat. Dengan kata lain, dalam pandangan saya, musisi dan sineas rasanya sih masih bisa survive! Setidaknya karena faktor idol mereka.
 
Yang jadi kekhawatiran adalah… bagaimana nasib kami para (calon) pengembang aplikasi perangkat lunak? Perasaan sih belum pernah denger ada orang mengidolakan seorang programmer! You wish! Apalagi di negara dengan tingkat piracy luar biasa seperti di Indonesia ini. Rasanya saya bisa mengerti mengapa tidak banyak aplikasi populer yang dihasilkan oleh para developer dari dalam negeri: males, ntar dibajak! Hasil kerja keras selama berbulan - bulan berakhir menjadi sekedar keping seharga 10 ribuan yang dijual bebas di depan kampus ITB. Hehe.
 
Padahal, Indonesia menurut saya tidak kekurangan developer handal koq. Setiap tahunnya entah berapa sarjana IT diwisuda. Perusahaan IT dalam negeri pun saya kira sudah sangat banyak. Tapi kenapa tidak pernah kita dengar ada produk populer seperti aplikasi desain grafis (semisal Corel atau keluarga Macromedia dan Adobe), atau antivirus (selain keluaran PCMedia), atau aplikasi saintifik (seperti Matlab, Mathcad), atau yang lainnya yang merupakan produk asli developer Indonesia. Padahal menurut saya sebagian besar perusahaan IT kita bisa saja koq mengeluarkan produk seperti itu. Namun kebanyakan ya berakhir sebagai perusahaan yang project oriented: mengerjakan aplikasi untuk klien tertentu, berdasarkan tender proyek tertentu, dan hasilnya kemudian tertutup antara si perusahaan dengan kliennya. Perusahaan tempat saya KP mengambil kebijaksanaan seperti ini, sebagai contoh.
 
Ya, saya juga tidak bilang jelek sih pengerjaan software yang project oriented begitu. Namun saya sungguh mendamba (ceile, bahasanya… "mendamba") bisa punya banyak hal yang ‘asli Indonesia’: mobil nasional yang bukan sekedar merakitnya saja di Indonesia; tim nasional yang bisa dibanggakan; klub pujaan asli Indonesia yang bisa berlaga di pentas dunia; pesawat nasional yang memang dipakai dan dioperasikan di banyak maskapai penerbangan; hingga software asli dalam negeri sebagai OS saya, sebagai aplikasi office saya, sebagai IDE favorit saya, sebagai pemutar musik kesukaan saya, dan lain lain lah.  Tapi kapan ya? Masalahnya dengan negara kita adalah, terlalu banyak Ruffi  dan Roronoa Zoro disini! Terlalu banyak pembajak! Bagaimana mau maju dunia IT kita??
 
Hehe. Makanya akhir - akhir ini saya menerapkan kebijakan: no pirated software on my laptop! Efeknya, sekarang saya pakai yang open source saja! Toh tiga bulan terakhir saya hidup dengan Ubuntu, dan saya baik - baik saja. Hehe. Hidup Ubuntu!  
 
Ga jelas nih, dari Rolling Stone nyambung ke Ubuntu. :D  

5 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://menulisitusehat.blogsome.com/2007/08/23/terlalu-banyak-luffy-dan-roronoa-zorro/trackback/

  1. setuju sekali dengan bung iqbal. yah, wlo produk elektro nampaknya lebih sulit untuk dibajak, tapi rasa solidaritas antara saudara se-STEI tetep kerasa koq, hehe…

    gw sih ya, klo bener ada yang ngeluarin program2 asli Indonesia, insya Allah gak beli yang bajakannya koq. klo lagu, yah itu dia, tetep berat euy, hehe…tap emang, klo bagus banget tu lagu satu album, gw beli deh!

    Comment by mango — August 28, 2007 @ 3:34 am

  2. gw bukan mau komen soal piracy, tp gw mau komen soal bacaan, hehe, gw rekomendasikan reader’s digest ke lo, kalo lo di jkt, lo bisa juga kok sebulan sekali ketemu gw buat minjem RD, it’s worth to be digested;p

    Comment by ade — August 28, 2007 @ 5:36 am

  3. @ dmj: terimakasih atas solidaritasnya, sobat! sori ni yak jarang blog walking kesana… .

    @ ade: bolehlah minjem reader’s digest. cuma kalo mesti tiap bulan ke Jakarta sih ya… berat juga… . ntar kalo gw di jakarta gw kontak2 elo deh yak!

    Comment by menulisitusehat — August 28, 2007 @ 7:24 am

  4. Yaaaaah… namanya juga manusia mas. Kalo ada yg gratis, ngapain jg beli?? Kalo ada black-goat, pastilah itu pihak yg buat situs buat DL lagu, film, software bajakan. Kalo di tempat saya di Semarang yg plg populer anangku.blogspot.com. Dan masih banyak lg. Situs2 semacem itu yg HARUS disalahkan. Bukannya saya…apalagi kapten saya, Luffy.

    Comment by Zoro — November 9, 2007 @ 6:28 pm

  5. yoiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

    Comment by dhimas — December 28, 2007 @ 4:57 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer