Terlalu Kecil untuk Nenek Pertiwi
Ini bukan cerita tentang nenek saya. Kedua nenek saya mah memang masih produk asli daerah yang masih terbiasa dengan nama seperti ‘Saripah’ dan ‘Rostina’. Jarang anak sekarang dinamakan nama – nama yang beraroma daerah ya, sama jarangnya dengan orang dulu punya nama ‘Pertiwi’.
Jadi jelas, nenek pertiwi tidak merujuk kepada wujud fisik seorang manusia. Usia kemerdekaan si ibu pertiwi kita sebentar lagi enam puluh dua. Sudah tua jika dikonversi ke umur manusia. Sudah jadi nenek lah, bukan lagi ibu. Tapi sebenarnya bagaimana kondisi si nenek ini? Sehat kah dia? Sehat, nek?
Tulisan ini jadi terlintas bukan karena saya sedang ikutan trend. Percayalah, tak lama lagi anda akan lihat televisi ramai dengan pernak pernik kemerdekaan, tiba – tiba para artis akan menjadi sosok nasionalis luar biasa, dan infotainment hadir dengan edisi khusus tentang bagaimana para selebriti memaknai kemerdekaan. Itulah trend. Tanggal 20 Agustus nanti semua orang toh lupa lagi dengan segalanya dan televisi kembali membahas kenapa artis A dan artis B berjekelahi serta kenapa semua itu berhubungan dengan ramalan Mama Loren, menayangkan sekuel Intan dengan 1000 episode baru, dan meyakinkan kita bahwa spesial efek murahan adalah penampakan. Televisi memang racun. :p
Ok, enough with that.
Mari kita melihat satu dua jam cuplikan kehidupan saya sebentar. Pagi hari setelah sarapan di Nasi Kuning Tanjakan saya berangkat ke kampus, melewati jalan Tamansari sambil sedikit menahan nafas saat melintas di TPS Tamansari. Sebelum menyeberang untuk memasuki gerbang kampus saya menyempatkan beberapa belas menit untuk melihat game bajakan apalagi yang sudah dirilis di tukang jualan depan kampus. Sesampai di himpunan, teman – teman sedang sibuk membahas bagaimana sulitnya mengurus KSM karena harus menunjukkan bukti bebas pinjaman perpustakaan dan untuk mempermudahnya kita cukup membayar ’sedikit lebih’ kepada petugas perpusatakaan. Wallahua’lam kemana larinya pembayaran kita yang ’sedikit lebih’ itu.
Satu dua jam cuplikan pengalaman keseharian saya saja sudah cukup menggambarkan betapa banyak masalah yang sudah mengakar di negeri kita, nenek pertiwi tercinta. Pengelolaan sampah yang tidak benar, piracy, birokrasi yang korup hingga ke level yang terendah sekalipun! Banyak sekali masalah ya? Rasanya saya sampai ragu benarkah apa – apa yang ditanamkan kepada saya selama ini dalam kaderisasi? Benarkah bahwa saya adalah bagian dari agent of change yang bisa mengubah negeri ini? Rasanya saya terlalu kecil untuk segudang permasalahan nenek pertiwi yang sudah mendarah daging. Bisa apa sih saya?
Akhirnya sebuah pencerahan muncul ketika saya sampai di sekre KM ITB. Saya hadir untuk mengikuti pembekalan bagi calon mentor PMB ITB 2007. Seorang teman, mantan kahim IMA-G bercerita dalam simulasi lingkar wacana. Kurang lebih begini penuturuannya, oiya tapi ini ga pure penuturan dia, ada beberapa tambahan pemikiran saya juga:
“Saya juga kadang berpikir, bener ga sih kita bisa bangkit? Indonesia bisa berubah? Indonesia bisa lebih baik? Kata orang kejelekan kita tuh udah mengakar, udah mendarah daging. KKN berkembang sampai ke level birokrasi yang paling rendah: dari pejabat pemerintah sampai penjaga perpus! Apa iya kita ga bisa berubah?”
Tapi kemudian ia menjawab sendiri penuturannya, “Saya yakin kita bisa koq. Emang kebiasaan jelek kita yang katanya sudah mendarah daging itu udah berapa lama sih? Baru juga 62 tahun sejak kita merdeka! Coba deh bayangin nenek moyang kita dulu selama 350 tahun berada di bawah penjajahan. 350 tahun itu artinya apa? Artinya minimal 6 generasi lahir dan meninggal dengan frame berpikir bahwa kita adalah bangsa yang dijajah, tapi toh pada akhirnya kita bisa merdeka juga.”
Iya, benar juga. Toh kita baru 62 tahun memiliki segala macam kebobrokan ini. Belum terlalu lama untuk kita bisa berubah. Saya yakin kita pasti bisa berubah dari frame berpikir bahwa kalo ga nyogok ga jalan; kalo sampah menumpuk itu biasa, ya itulah biasanya di Indonesia; kalo yang namanya pembajakan wajar, ya itulah Indonesia; kalo fasilitas umum rusak itu biasa, ya itulah Indonesia. Ini adalah pola pikir yang tidak benar dan saya yakin bahwa kita pasti bisa keluar dari frame berpikir seperti ini. Hmm…, nuhun atuh kang dah ngasih pencerahan!
Ternyata si nenek belum terlalu tua koq. Masih muda dan singset mungkin. Haha. Masih banyak waktu koq untuk memperbaiki diri. Ibarat perempuan muda, masih banyak waktu untuk mempercantik diri, ga cuma casing luar tapi juga inner beauty-nya. Ya, sekarang saya ga panggil nenek lagi, ibu pertiwi masih muda dan masih punya waktu banyak untuk bisa berubah!
Selamat ulang tahun yang ke-62!
