June 17, 2007

Kalau anak tidak pernah ketemu bapaknya

Filed under: Kampusku Rumahku

Seperti lagu "Bang Thoyyib" yang sempat booming dahulu, saya sedang merasakan kondisi dimana seorang anak jarang bertemu bapaknya. Tidak sampai 3 kali puasa dan 3 kali lebaran sih, tapi kondisinya sangat memprihatinkan. Lagi ngobrolin apa sih ini? Tenang, tulisan ini tidak sedang bercerita bahwa saya sedang ada masalah keluarga. No, not at all. Ini kan kampanye menulis, bukan koran gosip!

Tulisan ini adalah reaksi akhir saya setelah memasuki fase analisis dalam menanggapi surat cinta terkahir yang saya terima dari rektorat (yang juga telah saya post di sini).

Diskusi paling mencerahkan yang saya alami justru terjadi di tempat yang sama sekali tidak saya duga - duga: PT LAPI Divusi, tempat saya melaksanakan kerja praktek. Diskusi yang dimaksud adalah obrolan saat istirahat siang antara saya dengan Teh Tessa yang semasa masih kuliah dulu adalah senator HMIF.

Dalam diskusi dengan saya, Teh Tessa sangat menekankan bahwa bapak - bapak di gedung Annex sana sebenarnya ‘tidak sejahat itu’. In fact, mereka adalah ‘bapak’ bagi kita, para mahasiswa. Logika sederhananya, bapak mana sih yang mau mencelakakan anaknya? Tentunya setiap kebijakan yang diambil didasarkan pada keinginan si bapak untuk membawa anak - anaknya ke arah yang lebih baik.

Ide seperti ini sebenarnya bukan barang baru. Dalam beberapa forum silaturahmi ketua hmpunan, beberapa teman juga pernah mengungkapkan pemikiran seperti ini. Diantara yang pernah saya dengar adalah Iwa (EL 04) dan Willy (TM 04).

Masalahnya adalah seringkali kita, mahasiswa, sebagai anak berseberangan ide dengan bapak - bapak kita dalam hal ‘arah yang lebih baik’ tersebut. Nampaknya persepsi kita tidak sama dengan persepsi mereka. Kondisi ini diperparah dengan minimnya interaksi langsung antara para bapak - bapak penentu kebijakan tersebut dengan para mahasiswa sebagai ‘objek penderita’ dari kebijakan yang dibuat. Akhirnya, komunikasi menjadi mandeg dan segala sesuatu terkomunikasikan dalam bentuk yang paling tidak komunikatif yang bisa saya bayangkan: surat keputusan, surat edaran, dan surat larangan.

Beberapa poin dari surat larangan tersebut saya setuju, seperti: dilarang melakukan pemukulan, serta pelindungan terhadap orang - orang yang melanggar peraturan akademik ITB. Tapi poin lainnya seolah ditujukan untuk satu hal: mematikan kegiatan kaderisasi di tingkat program studi, fakultas/sekolah, maupun di tingkat universitas.

Jika sang bapak mengatakan bahwa adanya pemukulan dalam proses OS dan kaderisasi dilarang, maka saya akan menjadi salah satu orang yang paling depan mendukung peraturan tersebut. Namun karena sang bapak mengatakan bahwa merekrut kader baru (kaderisasi) dilarang, jelas saya sewot. Bagaimana organisasi saya melanjutkan hidup jika proses pembinaan kader baru dilarang! Alasan yang sering dikemukakan adalah, "mahasiswa kan objek pendidikan, bagaimana mungkin objek pendidikan yang satu berusaha mendidik objek pendidikan yang lain?" Saya akan katakan, "betulkah itu?" Bukannya sudah bukan rahasia lagi di ITB sering terjadi dosen meninggalkan tanggung jawabnya mendidik di kelas dan menyerahkan perannya sebagai pendidik kepada asisten, another so called ‘objek pendidikan’.

Tapi dialog ini tidak pernah terjadi antara saya dan pihak - pihak yang seharusnya menjadi bapak saya. Dan rasanya memang demikian juga dengan teman - teman di tempat lain. Akhirnya, seperti kata Iwa, kita menjadi generasi yang bingung. Menjadi generasi yang berusaha mendefinisikan sendiri seperti apa peran mahasiswa seharusnya. Timbul beragam deviasi seperti: mahasiswa adalah Iron Stock, Guardian of Value, dan Agent of Change; atau mahasiswa harus kritis; atau mahasiswa sebaiknya pulang saja sehabis kuliah dengan sesekali nonton bioskop atau bermain billiard; atau peran apapun itu yang kita lakoni masing - masing.

Padahal mungkin bapak - bapak kita berharap yang lain. Mungkin mereka berharap mahasiswa ITB sehabis kuliah semua masuk ke lab - lab, meneliti dan kemudian menghasilkan karya - karya yang spektakuler demi kemajuan bangsa; atau mungkin mereka berharap mahasiswa menjadi anak baik - baik, datang jam 7 pagi, pulang jam 5 sore; atau apapun itu yang saya tidak tahu.

Akhirnya kita tidak pernah sejalan. Bapak - bapak itu tetap keukeuh dengan pendiriannya akan peran mahasiswa (yang kita tidak pernah diberitahu apa itu) dan sebagian kita di organisasi - organisasi kemahasiswaan tetap keukeuh dengan peran mahasiswa seperti yang kita (atau mahasiswa lain pendahulu kita) definisikan sendiri.

Kan alangkah baiknya jika ada forum bersama antara kita dan para bapak - bapak tersebut. Duduk kita satu ruang bersama lalu sang bapak bercerita tentang impian dan harapannya akan mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan. Lalu kita juga bercerita tentang harapan dan impian kita akan mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan. Pasti banyak titik temunya. Dan bukan tidak mungkin kita akhirnya berbagi peran bahwa ITB sebagai institusi akan berperan A, B, C dalam mencapai impian itu sedangkan organisasi kemahasiswaan berperan D, E, F. Kan sekarang jadi tumpang tindih peran, organisasi kemahasiswaan membuat tutorial, rektorat membuat latihan kepemimpinan! Lama - kelamaan nanti kita tukar peran, korps asisten bikin kuliah sendiri, rektorat bikin kaderisasi dan kopi sore! Tah!

Aduh, wahai bapak… bapak…

3 kali puasa, 3 kali lebaran,

lagi - lagi kami hanya menerima surat edaran,  

yang isinya bisa dengan satu kata disimpulkan: 

jangan! 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer