Jangan buang sampah sembarangan ah…
Cerita ini saya dapatkan dari Dika (TL 04) sewaktu kami ngobrol – ngobrol setelah acara Forum Silaturahmi Himpunan – Unit – Kabinet. Tah! Makanya saya selalu yakin bahwa yang namanya Forsil itu pasti manfaat.
Tahukah kamu apa itu PPS?
Sebelum menjawab itu, semua warga ITB pasti tahu bahwa di seantero kampus ini terdapat banyak tong sampah berpasangan dengan warna putih dan hitam. Nah, tentunya semua orang yang tidak buta huruf pun tahu bahwa kedua tong sampah ini punya fungsinya masing – masing, yang hitam untuk menampung sampah yang tidak dapat membusuk seperti: plastik. Botol, karet, dll; sedangkan yang putih untuk menampung sampah yang dapat membusuk seperti: kulit pisang, makanan, dll. Tapi sayang sekali ternyata banyak dari kita warga ITB yang belum memanfaatkan kedua tong sampah ini sebagaimana seharusnya. Alasan yang sering kita kemukakan adalah,
“Yah, ujung – ujungnya kan disatuin juga tuh semua sampah di TPS Taman Sari”
Anda salah!
Saya juga. Dulu saya juga pikir begitu. Saya kira semua sampah ITB ini akan bermuara juga ke TPS Taman Sari. Tidak berguna memilah sampah. Ujung – ujungnya dicampur juga!
Ternyata, semua sampah ITB bermuara ke PPS: Pusat Pengolahan Sampah. Berdasarkan cerita Dika lagi, PPS ini sudah menerapkan pengolahan sampah dengan baik. Semua sampah yang dapat membusuk diolah menjadi pupuk kompos. Dari produksi kompos ini ITB mendapatkan keuntungan paling sedikit 2 juta rupiah setiap bulannya! Sedangkan sampah – sampah yang sudah tidak tertolong lagi dimasukkan ke sebuah mesin bernama inseminator. Saya sendiri belum pernah tahu apa itu inseminator sebelumnya, yang pasti mesin ini membutuhkan suhu tinggi untuk bekerja optimal menghancurkan sampah – sampah yang tidak dapat membusuk tadi, kurang lebih 1000 derajat celcius!
Ok, dari cerita PPS ini, saya ingin menumbuhkan rasa berdosa bagi semua warga ITB yang tidak membuang sampah dengan memilah dengan cerita berikut. Yang terjadi jika kita tidak memilah terlebih dulu sampah yang akan kita buang adalah sampah – sampah tersebut harus dipisah secara manual oleh petugas PPS yang:
- Bergaji kecil
- Tidak dilengkapi dengan equipment memadai
- Tidak diperhatikan
- Tidak memiliki tempat mengadu saat terjadi musibah menimpanya saat bertugas
Akhirnya, tugas si bapak petugas PPS ini pun akan sangat terhambat jika sampah yang disodorkan kepada beliau belum dipilah. Dalam kondisi hujan turun, beliau terpaksa memasukkan semua sampah yang belum dipilah tadi kedalam mesin inseminator. Hal ini akan membuat daya kerja mesin ini menjadi memburuk.
Untuk lebih menambah perasaan berdosa jika kita tidak membuang sampah dengan benar, saya teruskan cerita Dika pada saya. Si petugas yang dikunjungi Dika bertutur bahwa untuk memasukkan sampah ke mesin inseminator, ia harus melakukannya dengan manual. Artinya terkadang beliau harus membuka mesin bersuhu tinggi tadi untuk memasukkan sampah kedalamnya. Pada awal pekerjaannya, beliau dilengkapi dengan baju anti panas yang memadai. Namun setelah baju tersebut rusak (mungkin karena memang sudah waktunya rusak), pihak ITB tidak memberikan baju anti panas lain sebagai gantinya. Suatu kali terjadi, saat beliau memasukkan sampah ke mesin inseminator tanpa menggunakan baju anti panasnya yang sudah rusak, terkenalah tangan beliau oleh lidah api yang panas. Mengadulah beliau ke gedung Annex. Apa yang beliau terima? Santunan? Rujukan surat ke RS? Tidak! Yang beliau dapatkan adalah hanya sebuah salep! Ya, salep! Bagus jika yang memberikan salep tadi adalah pihak rumah sakit atau tenaga medis yang mengerti harus memberi treatment apa terhadap luka bakar beliau, namun yang memberikannya adalah petugas Annex dengan pengetahuan medisnya yang entah seberapa. Ok, kita cukupkan pembahasan soal gedung Annex, biasanya pembahasan soal gedung ini membuat naik darah.

iqbal: saya ingin menumbuhkan rasa berdosa bagi semua warga ITB yang tidak membuang sampah dengan memilah
tampaknya tidak berlaku buat gw, bal. karena gw berusaha memilah sampah yang mau dibuang ke tempat sampah yang emang kepisah. hohohohohohohoho…*bangga bangga
*
Comment by Rani! — May 19, 2007 @ 4:41 pm
napsu amat bal. sampe repost gini
Comment by dende — May 22, 2007 @ 1:55 pm
@ dende : bukan napsu euy, gw jg bingung kenapa ke post sampe dua kali, masih ada bug kali ya di blogsome nya…. . entah lah.
Comment by qbl — May 28, 2007 @ 8:58 am
wah salut2 dengan ITB!!!
kapan yah UI bisa memilah sampahnya juga, hmmm gw dukung banget nih kalo ada di UI, apalagi kayak fakultas gw yg punya limbah medis berbahaya ginih, tp pembuangan sampahnya masih konvensional. menyedihkan….
Comment by ade — August 28, 2007 @ 6:44 am
mau mengoreksi…
mesinnya namanya insinerator, bukan inseminator…
hehehe, makasih ya udah mau menumbuhkan perasaan berdosa bagi massa kampus ITB yg tidak memilah sampahnya…
semoga mereka sadar…
dini TL 05
Comment by dini — December 9, 2007 @ 4:32 pm
saya salut sama teman2 ITB, saya sendiri dari univ Binus jurusan DKV yang sedang mengerjakan tugas kampanye “pilah sampahmu”. saya kesulitan dengan target saya yang merupakan warga-warga komplek perumahan. bisa minta masukan kira-kira strategi komunikasi apa yang bisa mereka terima? thanx yaa..sukses selalu
Comment by edy galaxcy — May 17, 2008 @ 4:17 pm