May 19, 2007

Jangan buang sampah sembarangan ah…

Cerita ini saya dapatkan dari Dika (TL 04) sewaktu kami ngobrol – ngobrol setelah acara Forum Silaturahmi Himpunan – Unit – Kabinet. Tah! Makanya saya selalu yakin bahwa yang namanya Forsil itu pasti manfaat.

Tahukah kamu apa itu PPS? 

Sebelum menjawab itu, semua warga ITB pasti tahu bahwa di seantero kampus ini terdapat banyak tong sampah berpasangan dengan warna putih dan hitam. Nah, tentunya semua orang yang tidak buta huruf pun tahu bahwa kedua tong sampah ini punya fungsinya masing – masing, yang hitam untuk menampung sampah yang tidak dapat membusuk seperti: plastik. Botol, karet, dll; sedangkan yang putih untuk menampung sampah yang dapat membusuk seperti: kulit pisang, makanan, dll. Tapi sayang sekali ternyata banyak dari kita warga ITB yang belum memanfaatkan kedua tong sampah ini sebagaimana seharusnya. Alasan yang sering kita kemukakan adalah,

“Yah, ujung – ujungnya kan disatuin juga tuh semua sampah di TPS Taman Sari”

Anda salah!

Saya juga. Dulu saya juga pikir begitu. Saya kira semua sampah ITB ini akan bermuara juga ke TPS Taman Sari. Tidak berguna memilah sampah. Ujung – ujungnya dicampur juga!

Ternyata, semua sampah ITB bermuara ke PPS: Pusat Pengolahan Sampah. Berdasarkan cerita Dika lagi, PPS ini sudah menerapkan pengolahan sampah dengan baik. Semua sampah yang dapat membusuk diolah menjadi pupuk kompos. Dari produksi kompos ini ITB mendapatkan keuntungan paling sedikit 2 juta rupiah setiap bulannya! Sedangkan sampah – sampah yang sudah tidak tertolong lagi dimasukkan ke sebuah mesin bernama inseminator. Saya sendiri belum pernah tahu apa itu inseminator sebelumnya, yang pasti mesin ini membutuhkan suhu tinggi untuk bekerja optimal menghancurkan sampah – sampah yang tidak dapat membusuk tadi, kurang lebih 1000 derajat celcius!

Ok, dari cerita PPS ini, saya ingin menumbuhkan rasa berdosa bagi semua warga ITB yang tidak membuang sampah dengan memilah dengan cerita berikut. Yang terjadi jika kita tidak memilah terlebih dulu sampah yang akan kita buang adalah sampah – sampah tersebut harus dipisah secara manual oleh petugas PPS yang:

  • Bergaji kecil
  • Tidak dilengkapi dengan equipment memadai
  • Tidak diperhatikan
  • Tidak memiliki tempat mengadu saat terjadi musibah menimpanya saat bertugas

Akhirnya, tugas si bapak petugas PPS ini pun akan sangat terhambat jika sampah yang disodorkan kepada beliau belum dipilah. Dalam kondisi hujan turun, beliau terpaksa memasukkan semua sampah yang belum dipilah tadi kedalam mesin inseminator. Hal ini akan membuat daya kerja mesin ini menjadi memburuk. 

Untuk lebih menambah perasaan berdosa jika kita tidak membuang sampah dengan benar, saya teruskan cerita Dika pada saya. Si petugas yang dikunjungi Dika bertutur bahwa untuk memasukkan sampah ke mesin inseminator, ia harus melakukannya dengan manual. Artinya terkadang beliau harus membuka mesin bersuhu tinggi tadi untuk memasukkan sampah kedalamnya. Pada awal pekerjaannya, beliau dilengkapi dengan baju anti panas yang memadai. Namun setelah baju tersebut rusak (mungkin karena memang sudah waktunya rusak), pihak ITB tidak memberikan baju anti panas lain sebagai gantinya. Suatu kali terjadi, saat beliau memasukkan sampah ke mesin inseminator tanpa menggunakan baju anti panasnya yang sudah rusak, terkenalah tangan beliau oleh lidah api yang panas. Mengadulah beliau ke gedung Annex. Apa yang beliau terima? Santunan? Rujukan surat ke RS? Tidak! Yang beliau dapatkan adalah hanya sebuah salep! Ya, salep! Bagus jika yang memberikan salep tadi adalah pihak rumah sakit atau tenaga medis yang mengerti harus memberi treatment apa terhadap luka bakar beliau, namun yang memberikannya adalah petugas Annex dengan pengetahuan medisnya yang entah seberapa. Ok, kita cukupkan pembahasan soal gedung Annex, biasanya pembahasan soal gedung ini membuat naik darah.

Oleh karena itu, jika dapat membuat kita terenyuh, ingatlah bapak petugas PPS yang mengurusi sampah kita dengan segala deritanya saat kita hendak membuang sampah. Setidaknya, ringankanlah derita beliau dengan membuang dan memilah sampah kita sesuai tempatnya. Kalau kata Dika, “aduh, jangan zholim lah.” Ah…, saya jadi merasa berdosa sekali selama ini suka membuang sampah sesuka hati.

Jangan buang sampah sembarangan ah…

Cerita ini saya dapatkan dari Dika (TL 04) sewaktu kami ngobrol – ngobrol setelah acara Forum Silaturahmi Himpunan – Unit – Kabinet. Tah! Makanya saya selalu yakin bahwa yang namanya Forsil itu pasti manfaat.

Tahukah kamu apa itu PPS? 

Sebelum menjawab itu, semua warga ITB pasti tahu bahwa di seantero kampus ini terdapat banyak tong sampah berpasangan dengan warna putih dan hitam. Nah, tentunya semua orang yang tidak buta huruf pun tahu bahwa kedua tong sampah ini punya fungsinya masing – masing, yang hitam untuk menampung sampah yang tidak dapat membusuk seperti: plastik. Botol, karet, dll; sedangkan yang putih untuk menampung sampah yang dapat membusuk seperti: kulit pisang, makanan, dll. Tapi sayang sekali ternyata banyak dari kita warga ITB yang belum memanfaatkan kedua tong sampah ini sebagaimana seharusnya. Alasan yang sering kita kemukakan adalah,

“Yah, ujung – ujungnya kan disatuin juga tuh semua sampah di TPS Taman Sari”

Anda salah!

Saya juga. Dulu saya juga pikir begitu. Saya kira semua sampah ITB ini akan bermuara juga ke TPS Taman Sari. Tidak berguna memilah sampah. Ujung – ujungnya dicampur juga!

Ternyata, semua sampah ITB bermuara ke PPS: Pusat Pengolahan Sampah. Berdasarkan cerita Dika lagi, PPS ini sudah menerapkan pengolahan sampah dengan baik. Semua sampah yang dapat membusuk diolah menjadi pupuk kompos. Dari produksi kompos ini ITB mendapatkan keuntungan paling sedikit 2 juta rupiah setiap bulannya! Sedangkan sampah – sampah yang sudah tidak tertolong lagi dimasukkan ke sebuah mesin bernama inseminator. Saya sendiri belum pernah tahu apa itu inseminator sebelumnya, yang pasti mesin ini membutuhkan suhu tinggi untuk bekerja optimal menghancurkan sampah – sampah yang tidak dapat membusuk tadi, kurang lebih 1000 derajat celcius!

Ok, dari cerita PPS ini, saya ingin menumbuhkan rasa berdosa bagi semua warga ITB yang tidak membuang sampah dengan memilah dengan cerita berikut. Yang terjadi jika kita tidak memilah terlebih dulu sampah yang akan kita buang adalah sampah – sampah tersebut harus dipisah secara manual oleh petugas PPS yang:

  • Bergaji kecil
  • Tidak dilengkapi dengan equipment memadai
  • Tidak diperhatikan
  • Tidak memiliki tempat mengadu saat terjadi musibah menimpanya saat bertugas

Akhirnya, tugas si bapak petugas PPS ini pun akan sangat terhambat jika sampah yang disodorkan kepada beliau belum dipilah. Dalam kondisi hujan turun, beliau terpaksa memasukkan semua sampah yang belum dipilah tadi kedalam mesin inseminator. Hal ini akan membuat daya kerja mesin ini menjadi memburuk. 

Untuk lebih menambah perasaan berdosa jika kita tidak membuang sampah dengan benar, saya teruskan cerita Dika pada saya. Si petugas yang dikunjungi Dika bertutur bahwa untuk memasukkan sampah ke mesin inseminator, ia harus melakukannya dengan manual. Artinya terkadang beliau harus membuka mesin bersuhu tinggi tadi untuk memasukkan sampah kedalamnya. Pada awal pekerjaannya, beliau dilengkapi dengan baju anti panas yang memadai. Namun setelah baju tersebut rusak (mungkin karena memang sudah waktunya rusak), pihak ITB tidak memberikan baju anti panas lain sebagai gantinya. Suatu kali terjadi, saat beliau memasukkan sampah ke mesin inseminator tanpa menggunakan baju anti panasnya yang sudah rusak, terkenalah tangan beliau oleh lidah api yang panas. Mengadulah beliau ke gedung Annex. Apa yang beliau terima? Santunan? Rujukan surat ke RS? Tidak! Yang beliau dapatkan adalah hanya sebuah salep! Ya, salep! Bagus jika yang memberikan salep tadi adalah pihak rumah sakit atau tenaga medis yang mengerti harus memberi treatment apa terhadap luka bakar beliau, namun yang memberikannya adalah petugas Annex dengan pengetahuan medisnya yang entah seberapa. Ok, kita cukupkan pembahasan soal gedung Annex, biasanya pembahasan soal gedung ini membuat naik darah.

Oleh karena itu, jika dapat membuat kita terenyuh, ingatlah bapak petugas PPS yang mengurusi sampah kita dengan segala deritanya saat kita hendak membuang sampah. Setidaknya, ringankanlah derita beliau dengan membuang dan memilah sampah kita sesuai tempatnya. Kalau kata Dika, “aduh, jangan zholim lah.” Ah…, saya jadi merasa berdosa sekali selama ini suka membuang sampah sesuka hati.

May 15, 2007

Asistensi Ruarrrrr Biasa!!

Filed under: Habis ketemu orang

Awalnya saya kira asistensi itu akan menjadi.. ya seperti biasanya asistensi saja. Tidak ada yang terlalu istimewa. Saya tidak sedang bilang asistensi yang selama ini diselenggarakan dengan asal - asalan saja oleh para pihak yang berwenang lho. Sama sekali tidak. Saya hanya bilang asistensi yang akan saya ceritakan lebih istimewa dari yang biasanya saya alami.

Saat tulisan ini saya publish, asistensi luar biasa tersebut belumlah beberapa jam berlalu. Tepatnya pukul 3 sore tadi, saya dan kelompok tugas IF3261 mengadakan asistensi di lab SI. Awal asistensi, sang asisten ternyata langsung menanyakan sebuah pertanyaan yang berbeda dari biasanya, "dapet apa dari MPPL?" Dung! Wah, sangat jarang sekali ada pertanyaan seperti ini di asistensi, kalau di kaderisasi sih sering, "apa yang kalian dapatkan dari kaderisasi ini?"

Tumpahlah segala uneg - uneg dari saya dan temen - temen KutuBuku*. Mulai dari kesulitan yang ditemui dalam pengerjaan, masalah tentang MVC** dan kawan  - kawannya, hingga kritik terhadap penyelenggaraan kuliah. Setelah sesi uneg - uneg, tibalah waktunya si kakak asisten yang bijak memberikan feedback. Saya begitu tergugah dengan apa yang beliau sampaikan. Emang bilang apa sih asisten lu?

Asisten saya bilang bahwa pelajaran ini hendaknya tidak cuma diterapkan dalam mengerjakan tugas kuliah. Manajemen hendaknya diterapkan dalam (meminjam istilah beliau) ‘real life‘. Beliau bercerita bagaimana ia me-manage perkuliahannya sebagai contoh. Beliau me-manage hal - hal seperti: semester ini saya harus bisa apa, parameternya dengan IP berapa; hingga: nanti lulus harus punya spesifikasi apa. Wow!

Saya takjub. Jujur saja, kehidupan akademis saya tidak sehat. Saya tidak pernah memikirkan semester ini saya harus bisa apa. Pernah sekali saya mentargetkan bahwa saya harus lulus ujian SCJP, itu pun gagal saya realisasikan. Rasanya setiap semester saya hanya menjalani rutinitas saja: perwalian; mengambil KSM; ikut perkuliahan; mengerjakan tugas; belajar jika menjelang kuis, UTS dan UAS; lantas tiba - tiba sudah perwalian lagi! Ah, merugi sekali kehidupan akademis saya selama 3 tahun ini!

Padahal saat menangani beberapa hal dalam kegiatan lain saya melakukan manajemen. Ketika memegang amanah jadi ketua Mukrab dulu, misalnya, saya dan teman - teman panitia sama - sama melakukn planning: mau bagaimana Mukrab kita, apa tujuannya.  Lantas kita organizing: bagaimana mencapai apa yang kita rencanakan. Kita lalu actuating: melaksanakan apa - apa yang telah kita rencanakan dan atur. Lantas kita lakukan controlling: tercapaikah parameter keberhasilannya, dll.

Ah, merugi sekali kehidupan akademis saya 3 tahun terkahir ini! Tidak jelas benar apa yang ingin saya capai dalam perkuliahan tiap semesternya. Saya hanya mengikuti rutinitas. Kalaupun ada manajemen yang saya lakukan adalah manajemen mengahadapi rutinitas tadi: persiapan tugas, persiapan UTS, persiapan UAS; dan bukannya melakukan manajemen terhadap pencapaian pribadi dalam bidang akademis. Akhirnya, saya tidak pernah dapat menilai diri sendiri secara objektif dalam pencapaian akademis. Bukan tentang IP, bukan. Lebih pada: apa yang ingin saya capai pada tiap aspek akademis saya. Katakanlah pada beberapa kuliah saya hanya ingin ‘lulus dengan nilai baik’, atau bahkan pada beberapa kuliah lain sekedar ‘lulus dengan nilai cukup’, namun tentunya seharusnya ada beberapa kuliah yang saya targetkan, "harus bisa xxxxxx", katakan  xxxxxx tadi kita ganti dengan ‘MVC dengan PHP’ atau ‘Paham PostgreSQL’ atau ‘Paham object oriented programming dengan baik’. Tidak perlu semua kuliah memang, setidaknya demikian menurut saya. Toh, diakhir saya hanya akan mendalami salah satu keahlian yang diajarkan di IF dalam pembuatan Tugas Akhir.

Duh, merugi sekali saya.  Tapi, too late is better than neverOk, semester ini hampir berakhir, tapi saya masih bisa membuat resolusi akhir semester dan resolusi untuk Kerja Praktek. Resolusi akhir semester ini saya coba canangkan sekarang: "paham dan mampu mengimplementasikan MVC dengan PHP dengan baik" . Ok, bukan resolusi yang istimewa mungkin buat sebagian besar mahasiswa IF 2004, tapi buat saya itu adalah satu langkah berarti. Mengutip seseorang, "I lose, indeed. Just hope that, in winning I earn, in losing I learn!"

 

Kosakata:

* KutuBuku adalah nama kelompok tugas Proyek Perangkat Lunak saya

** In case yang membaca bukan orang IF, MVC singkatan dari Modeller-Viewer-Controller, salah satu kerangka kerja yang biasa dipakai dalam membuat program/software dengan pendekatan object oriented

May 7, 2007

Pasca sidang pengesahan proker (yang gagal)

Saat ini saya juga sedang membuat draft untuk tulisan dengan isi serupa dengan tulisan ini. Rencananya, draft tadi akan dipublikasikan melalui media cetak, mungkin melalui buletin Ekspressif.

Singkatnya, sidang pengesahan proker yang dilakukan pada Kamis (4 Mei 2007) lalu berakhir dengan pembatalan sidang dan pengesahan program kerja DE dan DPP HMIF 2007/2008 tanpa melalui mekanisme sidang melainkan dengan keputusan DPP semata. Saya sendiri malam itu memutuskan untuk mematuhi keputusan yang dibuat oleh DPP tersebut dengan menandatangani lembar pengesahan proker. Mungkin tidak sedikit yang kecewa dengan keputusan saya, namun keputusan tersebut akhirnya saya pilih karena saya merasa harus mematuhi keputusan lembaga yang menurut AD/ART hanya kalah tinggi dari sidang anggota.

Namun, ada beberapa hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dari kejadian malam itu:

1. Waktunya berubah

Sidang yang dihadiri oleh sedikit anggota biasa nampaknya bukan hal baru. Terutama jika bukan sidang LPJ. Saya jadi teringat bahwa tahun lalu pun sidang pengesahan proker akhirnya berakhir dengan jumlah peserta sidang yang hanya terdiri dari 5 orang selain DE dan DPP waktu itu. Justru saya bersyukur bahwa peserta sidang malam itu mengkritisi perilaku ‘titip absen’ yang dilakukan banyak anggota HMIF yang lain. Memang sekarang waktunya berubah. Waktunya untuk lebih menghormati sidang anggota sebagai lembaga tertinggi di HMIF kita. Waktunya juga untuk lebih peduli terhadap lembaga tertinggi tersebut. Tentunya hal ini juga menuntut penyelenggara sidang (DPP dan juga DE) untuk lebih besar lagi effort-nya dalam pengadaan sidang, baik dari segi publikasi, pewacanaan agenda sidang, peletakkan jadwal sidang, dan lain sebagainya.
 

2. Hirarki peraturan

Pada sidang yang lalu, setiap kali timbul permasalahan kita selalu berusaha mengacu pada AD/ART. Bagus sih. Masalahnya adalah AD/ART kita memang masih memiliki banyak celah dan belum mengatur segala hal. Dan memang tidak seharusnya AD/ART lantas membahas segala hal sampai ke hal - hal teknis. Yang kita perlukan adalah hirarki peraturan. Maksud?

Ambil contoh organisasi bernama Republik Indonesia. Peraturan tertingginya adalah UUD 45. Namun jelas, jika segala sesuatu harus mengacu kepada UUD 45 akan kacaulah semuanya. Misal, di UUD 45 tidak pernah ada keterangan bagaimana cara menghukum maling sendal. Jika segala sesuatu harus kembali ke UUD 45, apa kata dunia? Oleh karena itu, lantas di organisasi selevel negara Republik Indonesia tadi ada yang namanya tap MPR, ada keputusan Presiden, dan beragam aturan lainnya.

Di AD/ART HMIF, hanya terdapat dua hirarki peraturan yakni AD/ART sendiri dan keputusan DE atas persetujuan DPP. Padahal banyak hal yang harus diputuskan yang diluar kewenangan DE, misalnya ya.. soal sidang tadi. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan salah satu butir amandemen AD/ART HMIF ini nantinya adalah hirarki peraturan yang lebih baik sehingga setiap kali ada permasalahan kita tidak lantas harus merujuk jauh kepada AD/ART untuk menyelesaikannya.

3. Kembali menyadari hak dan kewajiban anggota biasa 

Menghadiri sidang anggota memang tidak pernah secara eksplisit disebut sebagai kewajiban anggota biasa HMIF. Namun, mengingat sidang anggota adalah lembaga tertinggi yang diakui di HMIF, seharusnyalah anggota biasa menyadari pentingnya kehadiran mereka. Tulisan yang akan saya paparkan melalui media cetak tadi akan lebih banyak membahas mengenai pentingnya kesadaran akan hak dan kewajiban anggota biasa ini. Nantikan saja ya… . Mungkin di Ekspressif bulan Mei akan ditampilkan. ^-^

 

Akhirnya, semoga sidang pengesahan proker lalu dapat menjadi titik balik bagi penyelenggaraan sidang anggota di HMIF. Semoga nantinya kita dapat menyelenggarakan sidang anggota dengan lebih baik lagi. Di depan kita masih banyak sidang lho…, minimal sidang pengesahan GDK, LPJ tengah tahun, sidang pengesahan amandemen AD/ART dan LPJ akhir tahun nanti. Semoga semuanya bisa terlaksana dengan lebih baik lagi. Amin.

Kampanye Menulis Dimulai!

Filed under: Kampusku Rumahku

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya saya bersama teman - teman DE HMIF 2007/2008 meluncurkan blog kampanye menulis kami masing - masing. Apa sih kampanye menulis? Ngapain sih bikin gini - ginian?

Kampanye menulis adalah kegiatan non-proker yang dicanangkan untuk mendukung tercapainya salah satu misi kepengurusan HMIF 2007/2008: membudayakan menulis di HMIF. Spirit-nya begini, saya ingin menjadikan HMIF ini sebagai sebuah learning organization. Nah, aspek - aspek yang harus dicapai untuk menuju learning organization tadi tidak sedikit. Pada kepengurusan kali ini saya ingin fokus pada mengalirnya pengetahuan yang dimiliki individu - individu di HMIF sehingga dapat dimanfaatkan oleh anggota lainnya.

Maksud?

Wah, agak membingungkan ya… . Kurang lebih begini, pada salah satu referensi yang saya punya, tertulis bahwa upgrading pada sebagian orang dalam organisasi ternyata tidak membawa dampak yang sedemikian signifikan bagi kemajuan organisasi tersebut. Kenapa? Karena selama pengetahuan yang ia punya hanya disimpan bagi dirinya sendiri maka pengetahuan tersebut hanya akan bermanfaat bagi orang yang memilikinya.

Nah, saya sangat yakin bahwa kedepannya teman - teman DE akan banyak sekali mendapat pembelajaran dari menjalankan tugasnya selama kepengurusan. Pengetahuan yang didapat oleh teman - teman DE tadi sangat sayang rasanya kalau hanya disimpan oleh masing - masing pribadi saja. Melalui blog kampanye menulis ini, saya berharap kami lantas dapat membagi apa - apa yang kami alami yang mungkin dapat diambil pembelajarannya oleh kami dan siapa pun yang membaca blog kami.

Harapan lainnya juga akhirnya teman - teman HMIF juga tertarik untuk saling berbagi pengalaman - pengalaman yang bisa dijadikan pembelajaran bagi semua. Kan yang dapet pembelajaran bukan cuma DE doang. ^-^ 

Mari menulis!!! 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer